Arema FC Waspadai Krisis Kebugaran Usai Menang 4-0 atas Dewa United

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 17:02:31 WIB
Pelatih interim Arema FC, Andre Caldas, memantau kondisi pemain dalam laga melawan Dewa United Banten FC di Stadion Kanjuruhan.

NUSA TENGGARA BARAT — Kemenangan telak 4-0 Arema FC atas Dewa United Banten FC di Stadion Kanjuruhan menyisakan kekhawatiran tersendiri bagi tim pelatih. Gelandang vital Matheus Blade mengalami gangguan otot, sementara sejumlah pilar utama dihantam kelelahan fisik tingkat tinggi.

Pelatih interim Arema FC, Andre Caldas, mengakui stamina anak asuhnya terkuras hebat akibat himpitan jadwal BRI Super League 2026/2027 yang sangat padat. Kekhawatiran tim medis memuncak pada babak kedua ketika Matheus Blade terkapar memegang paha usai melakukan akselerasi sprint menjelang akhir laga.

Gelandang asal Brasil itu terpaksa ditarik keluar lebih awal guna mengantisipasi kerusakan jaringan otot yang lebih parah. Caldas menegaskan pergantian yang dilakukannya bukan semata-mata kebutuhan taktis di lapangan.

Matheus Blade Alami Kelelahan Hebat di Menit ke-80

Menurut Caldas, Blade sudah menunjukkan tanda-tanda masalah fisik sebelum meringis kesakitan. Pemain berusia 38 tahun itu menyebut sang gelandang jangkar terlalu banyak menelan menit bermain.

"Soal Blade? Ya, Blade itu sangat penting bagi tim. Dia mengalami kelelahan hebat karena terlalu banyak pertandingan dan menit bermain. Saat mencoba melakukan sprint di menit ke-80, dia merasakan sesuatu pada fisiknya. Kami harus sangat berhati-hati," tutur Andre Caldas, Selasa (27/10/2026).

Marcos Vinicius dan Careca Ikut Ditarik demi Selamatkan Fisik

Selain Blade, tim pelatih menarik keluar penyerang sayap Marcos Vinicius serta bomber Careca pada pertengahan babak kedua. Keduanya dinilai sudah menyentuh ambang batas kemampuan fisik setelah terus-menerus melakukan pressing tinggi ke lini pertahanan lawan.

"Selain Blade, saya juga mengganti pemain lain seperti Marcos (Vinicius) dan Careca, karena kondisi fisik mereka sudah sangat berat. Kalau saat itu tidak segera diganti, bukan tidak mungkin mereka juga akan mengalami cedera," jelas Caldas.

Situasi ruang ganti Singo Edan kian terjepit setelah bek tangguh Walisson Maia dipastikan terlempar dari daftar susunan pemain akibat cedera saat sesi latihan harian. Kondisi itu membuat opsi pemain berpengalaman di bangku cadangan sangat terbatas.

Rotasi Bukan Hukuman, tapi Evaluasi Medis Harian

Caldas menegaskan pentingnya keberanian merombak susunan pemain awal di setiap laga. Ia meminta publik dan Aremania tidak salah kaprah menilai kebijakan rotasi yang diterapkannya sebagai bentuk hukuman taktis.

Pemain yang diparkir di bangku cadangan, kata Caldas, murni dipengaruhi evaluasi medis harian. Contohnya keputusan mengistirahatkan Johan Alfarizi dan menggantikannya dengan Leo Guntara, yang didasari faktor kelelahan usai perjalanan tandang menguras tenaga.

Alfarizi tercatat telah tampil penuh dalam lima hingga enam pertandingan berturut-turut dengan ritme kompetisi yang sangat keras. Beban perjalanan tandang menambah tekanan pada kebugaran skuad.

"Perubahan-perubahan tersebut adalah hal yang wajar dalam sepak bola. Bukan berarti pemain yang tampil sebelumnya melakukan kesalahan. Kami sedang berada dalam situasi sulit di mana setiap pemain memiliki batas stamina yang harus dijaga," pungkas Andre Caldas.

Kemenangan 4-0 atas Dewa United Banten FC pada Pekan ke-7 memang menjaga performa impresif Singo Edan. Namun dengan jadwal yang terus merapat, kedalaman skuad Arema FC bakal diuji ketat dalam laga-laga berikutnya.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: malang-post.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top