LOMBOK TIMUR - PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus memacu penyelesaian tahap akhir pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lombok FTP-2 di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Proyek infrastruktur energi dengan kapasitas total 100 Megawatt (MW) ini diproyeksikan menjadi tulang punggung baru bagi sistem kelistrikan di Pulau Lombok.
Guna memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, jajaran manajemen PLN melakukan kunjungan lapangan langsung ke lokasi proyek pada Kamis (30/4/2026). Peninjauan ini dilakukan untuk memantau detail teknis di lapangan, mengingat proyek tersebut kini tengah memasuki fase krusial sebelum benar-benar bisa menyuplai listrik secara massal ke masyarakat dan pelaku industri.
Progres Fisik PLTU Sambelia Capai 90 Persen Lebih
Secara teknis, pengerjaan konstruksi pembangkit ini menunjukkan tren positif yang signifikan. Manager Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 1, Yogi Yohannes Siburian, memaparkan bahwa hingga saat ini seluruh tim di lapangan sedang bekerja ekstra keras untuk menuntaskan sisa pekerjaan yang ada, terutama pada aspek mekanikal dan elektrikal.
“Per hari ini progres aktual pembangunan telah mencapai angka 90,08 persen. Saat ini fokus utama kami adalah pada penyelesaian sisa konstruksi dan memulai rangkaian proses commissioning atau pengujian mesin pada Unit 1. Langkah ini sangat penting agar target operasi komersial dapat tercapai sesuai dengan rencana besar yang telah ditetapkan,” ungkap Yogi Yohannes saat memberikan penjelasan teknis di lokasi proyek.
Pekerjaan pada tahap akhir ini melibatkan pengujian sistem secara menyeluruh untuk memastikan setiap komponen pembangkit berfungsi optimal. Tim teknis PLN terus bersiaga memastikan integrasi antara mesin pembangkit dengan jaringan listrik eksisting di Nusa Tenggara Barat berjalan tanpa kendala teknis yang berarti.
Target Sinkronisasi Perdana pada Akhir Mei 2026
General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menyatakan optimisme tinggi terhadap penyelesaian proyek ini. Menurutnya, sinkronisasi pertama (first synchronization) pada Unit 1 menjadi tonggak sejarah penting yang diharapkan dapat terlaksana dalam waktu dekat. Hal ini menjadi syarat mutlak sebelum pembangkit bisa menyalurkan daya secara stabil ke sistem kelistrikan Lombok.
“Kami berharap proses first synchronization untuk Unit 1 dapat tercapai pada akhir Mei mendatang. Dengan begitu, target operasi komersial (Commercial Operation Date/COD) pada tahun ini bisa terealisasi sepenuhnya. Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak agar seluruh proses menuju operasional penuh berjalan lancar,” ujar Rizki Aftarianto di sela-sela peninjauan.
Rizki menambahkan bahwa percepatan ini dilakukan untuk merespons kebutuhan daya masyarakat yang terus meningkat. Selain itu, PLN berkomitmen untuk terus menghadirkan energi yang andal guna mendukung sektor produktif, mulai dari sektor pariwisata hingga industri pengolahan yang sedang berkembang pesat di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Penopang Utama Beban Dasar Listrik Pulau Lombok
Peran PLTU Sambelia dalam peta kelistrikan daerah dinilai sangat vital. Executive Vice President Manajemen Konstruksi PLN, Widya Anggoro Putro, menegaskan bahwa proyek ini merupakan salah satu prioritas nasional karena fungsinya sebagai penyedia beban dasar atau baseload. Sebagai pembangkit baseload, PLTU ini akan beroperasi secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan listrik minimum dalam satu sistem jaringan.
“Proyek ini memiliki peran yang sangat strategis bagi sistem kelistrikan di Lombok. PLTU Sambelia akan menjadi salah satu penopang utama pasokan listrik baseload, sehingga setiap milestone penting dalam dua bulan ke depan ini benar-benar harus kita tuntaskan bersama secara presisi,” tegas Widya Anggoro. Ia juga menekankan bahwa fase sinkronisasi membutuhkan konsentrasi tinggi dari seluruh personel yang terlibat.
Kehadiran PLTU Lombok FTP-2 dengan total kapasitas 100 MW ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas pasokan listrik bagi rumah tangga, tetapi juga menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi dan daya tarik investasi di Nusa Tenggara Barat. Dengan ketersediaan energi yang melimpah dan stabil, diharapkan para investor tidak ragu lagi untuk menanamkan modalnya di Bumi Gora, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.