LOMBOK TIMUR - Kompetisi lari ekstrem berskala internasional, Rinjani 100, resmi dimulai dengan titik awal di Pantai Pekendangan, Desa Belanting, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada Jumat (1/5/2026). Pembukaan ajang bergengsi ini tidak hanya menonjolkan sisi olahraga, tetapi juga menjadi panggung promosi budaya melalui dentuman musik tradisional Gendang Beleq yang mengiringi para pelari saat pelepasan atau flag off.
Promosi Budaya Lewat Olahraga Ekstrem
Kehadiran kesenian Gendang Beleq di garis start bertujuan memberikan pengalaman emosional dan budaya yang mendalam bagi para peserta, terutama pelari mancanegara. Suasana meriah menyelimuti Pantai Pekendangan saat para atlet dari berbagai negara terlihat antusias, bahkan beberapa di antaranya turut menari mengikuti irama musik tradisional sebelum menaklukkan medan berat Rinjani.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Widayat, menyatakan bahwa integrasi budaya dalam ajang olahraga ini merupakan strategi pemerintah daerah untuk memperkenalkan kekayaan lokal ke kancah dunia. Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan bahwa pendekatan budaya efektif dalam menarik perhatian wisatawan internasional.
"Ini tentu menjadi daya tarik bagi para peserta dan juga pengunjung yang datang dari berbagai mancanegara, ini cara kami untuk memperkenalkan budaya lokal kita. Para peserta juga terlihat antusias, bahkan tadi ada yang menari juga," ujar Widayat saat memantau jalannya pembukaan acara.
Dampak Ekonomi dan Okupansi Hotel di Sembalun
Penyelenggaraan Rinjani 100 memberikan dampak instan terhadap roda ekonomi di Kabupaten Lombok Timur, khususnya di sektor akomodasi. Kawasan Sembalun yang menjadi salah satu titik krusial perlombaan melaporkan lonjakan pesanan kamar yang signifikan. Seluruh fasilitas penginapan, mulai dari hotel hingga homestay milik warga, telah terisi penuh oleh peserta, kru, maupun pendukung acara.
Widayat mengonfirmasi bahwa ketersediaan kamar di wilayah Sembalun sudah habis dipesan sejak jauh-jauh hari sebelum kegiatan dimulai. Hal ini menandakan tingginya minat masyarakat dan komunitas lari terhadap ajang tahunan ini, yang secara langsung meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata.
"Tentu ini berdampak positif bagi pariwisata kita, salah satu indikatornya adalah penginapan dan hotel di Sembalun semuanya telah penuh, bahkan kabarnya ada yang kesulitan juga mendapatkan kamar karena semuanya telah di-booking jauh-jauh hari," kata Widayat menambahkan.
Selain sektor perhotelan, geliat ekonomi juga tampak pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Warga lokal memanfaatkan momen berkumpulnya ribuan orang ini dengan menjajakan berbagai produk lokal dan jasa di sekitar lokasi acara. Kehadiran pedagang kaki lima hingga gerai produk kerajinan tangan turut mewarnai keramaian di Pantai Pekendangan.
Target Wisatawan dan Teknis Perlombaan
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memproyeksikan ajang Rinjani 100 sebagai katalisator utama untuk mencapai target kunjungan wisatawan tahun 2026. Dengan ribuan peserta yang terlibat, otoritas pariwisata optimis angka kunjungan yang telah ditetapkan secara resmi dapat terlampaui melalui efek domino dari acara internasional ini.
"Target kunjungan wisata kita di tahun 2026 ini 53.000. Saya yakin ajang Rinjani 100 ini bisa menjadi pemicu untuk bisa mencapai target tersebut," ucap Widayat dengan nada optimis. Dampak positif ini diharapkan tidak hanya berhenti saat acara berlangsung, tetapi juga memberikan citra positif bagi pariwisata Lombok Timur di masa depan.
Secara teknis, prosesi pelepasan di Pantai Pekendangan dikhususkan bagi peserta kategori utama, yakni 162 K, yang merupakan rute paling menantang. Sementara itu, untuk lima kategori perlombaan lainnya, panitia telah menjadwalkan titik start secara terpisah di wilayah Senaru dan Sembalun guna membagi konsentrasi massa dan memastikan kelancaran manajemen lomba.
Pemerintah daerah berharap kesuksesan Rinjani 100 tahun ini akan memperkuat posisi Nusa Tenggara Barat sebagai destinasi unggulan sport tourism di Indonesia. Dengan koordinasi yang baik antara aspek olahraga, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi, ajang ini diharapkan terus konsisten menjadi agenda tahunan yang dinantikan oleh pelari lintas alam dari seluruh dunia.