NUSA TENGGARA BARAT — Slag timah yang selama puluhan tahun dianggap sebagai limbah pabrik, kini resmi menjadi komoditas strategis nasional. PT Timah (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas menandatangani kerangka kerja sama bersyarat untuk mengolah material tersebut bersama logam tanah jarang (LTJ) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kesepakatan bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka ini diteken langsung oleh Direktur Utama Perminas Gilarsi Wahju Setijono dan Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro. Acara penandatanganan disaksikan oleh Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin dan CTO Danantara Sigit Puji Santosa, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang juga menjabat Kepala Badan Industri Mineral (BIM).
Dari Limbah Jadi Tambang Baru
Restu Widiyantoro mengakui bahwa selama ini PT Timah hanya fokus mengolah bijih timah dari hulu ke hilir untuk diekspor. Slag yang menumpuk di area pabrik tidak pernah dianggap sebagai aset ekonomi.
"Dengan kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026). Menurut Restu, slag yang selama ini dianggap sisa produksi ternyata menyimpan potensi strategis besar. Material ini mengandung elemen langka yang dibutuhkan industri baterai, elektronik, dan pertahanan.
Gilarsi Wahju Setijono menyebut kerja sama ini bukan sekadar wacana. "Hari ini cukup membahagiakan karena setelah perjuangan panjang akhirnya kita menyepakati kolaborasi. Ini langkah konkret untuk memulai perjalanan baru dalam membangun kedaulatan mineral Indonesia," katanya.
Teknologi Pengolahan Jadi Tantangan Utama
Direktur Utama Perminas itu mengakui bahwa teknologi pemisahan logam tanah jarang selama ini dikuasai segelintir negara seperti China dan Australia. "Teknologi pengolahan ini cukup strategis dan selama ini banyak dikunci oleh negara lain. Karena itu kami berupaya menghadirkan partner yang tepat agar proses pengolahan bisa dipercepat," jelas Gilarsi.
Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga regulasi dan perizinan. Kedua perusahaan akan memvalidasi teknologi, menyusun kajian teknis dan komersial, serta memperkuat aspek keselamatan kerja sebelum produksi massal dimulai.
Danantara Siap Fasilitasi Percepatan Proyek
Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menilai sektor rare earth elements selama ini menjadi industri yang terlupakan. "Mineral ini sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi belum mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi negara," ujarnya.
Danantara berkomitmen memfasilitasi kebutuhan percepatan proyek, termasuk dukungan perizinan dan penyelesaian kendala hilirisasi. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menekankan bahwa kolaborasi ini harus menghasilkan langkah konkret dan berkelanjutan, bukan berhenti pada seremoni. "Kita ingin mengelola kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini untuk tujuan utama, yakni kepentingan nasional dan kesejahteraan bangsa serta negara," tegasnya.
Kerja sama ini menjadi bagian dari agenda besar pemerintah membangun kemandirian industri mineral kritis. Indonesia selama ini hanya mengekspor bahan mentah timah dan meninggalkan slag di dalam negeri. Dengan pengolahan slag dan logam tanah jarang, nilai tambah yang sebelumnya hilang kini bisa dinikmati di dalam negeri.