NUSA TENGGARA BARAT — Sepanjang 2025, Astra Agro mencatat pemantauan terhadap 1.579 spesies flora dan 755 spesies fauna di area operasionalnya. Angka itu diperoleh dari inventarisasi dan pencatatan berkala yang dilakukan perusahaan di kawasan konservasi yang dikelolanya. Pada periode yang sama, perseroan merehabilitasi 193,09 hektare lahan melalui penanaman 49.390 pohon.
Kajian Kontribusi Swasta terhadap Target Biodiversitas Nasional
Sekretaris Eksekutif Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati BRIN, Ruliyana Susanti, menilai inisiatif Astra Agro relevan dengan pencapaian target nasional dan global. Ia menyebut program perlindungan area bernilai konservasi tinggi, pemantauan biodiversitas, dan rehabilitasi ekosistem sebagai kontribusi nyata sektor swasta.
"BRIN mengapresiasi keterbukaan Astra Agro dalam memperlihatkan praktik pengelolaan dan konservasi keanekaragaman hayati yang diterapkan di area operasional perusahaan," ujar Ruliyana dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Kunjungan lapangan BRIN ke Kalimantan Tengah itu merupakan bagian dari kajian mengenai kontribusi sektor swasta terhadap Target 15 Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework serta Target Nasional 18 dalam Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2025–2045. Ruliyana didampingi Prof Gono Semiadi, anggota tim nasional penulis Natrep 7 dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi.
Area Konservasi dan Pengelolaan Ekosistem Alami
Direktur Operasional Area Kalimantan Tengah Astra Agro, Hubbal Khoir Sembiring, menjelaskan perusahaan melindungi dan mengelola area Nilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi. Ekosistem alami seperti sempadan sungai, hutan sekunder, dan lahan gambut dijaga tanpa pengembangan di area yang teridentifikasi memiliki nilai konservasi tinggi.
"Dalam industri kelapa sawit, isu seperti deforestasi, perlindungan habitat, pengelolaan gambut, pencegahan kebakaran lahan, pengurangan emisi, dan ketertelusuran rantai pasok menjadi perhatian utama para pemangku kepentingan," kata Hubbal.
Ia menambahkan, pemantauan biodiversitas diperkuat melalui inventarisasi flora dan fauna secara berkala. Data tersebut menjadi dasar untuk menilai tren keanekaragaman hayati, mengidentifikasi spesies kunci, serta mengevaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.
Kolaborasi Riset dan Industri untuk Kebijakan Berbasis Sains
Ruliyana menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga riset dan sektor swasta untuk memperkaya data serta praktik baik konservasi. Menurutnya, hasil kajian ini dapat mendukung pengambilan kebijakan berbasis sains dan memperkuat pencapaian target konservasi nasional.
Hubbal berharap kunjungan BRIN dapat memperkaya kajian ilmiah mengenai kontribusi sektor swasta terhadap target keanekaragaman hayati. "Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa industri sawit dapat mengambil peran dalam agenda konservasi melalui pengelolaan yang mengedepankan keterbukaan, ketertelusuran, dan tanggung jawab lingkungan," tandas dia.