MATARAM — Perjalanan lapangan Gubernur NTB ke sejumlah titik di Pulau Lombok dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia membuahkan satu kesimpulan: alam bisa pulih ketika diberi kesempatan. Di kawasan Pantai Pink, Lombok Timur, Gubernur melihat sendiri pepohonan yang semakin rimbun dan udara yang terasa lebih sejuk dibanding kunjungan beberapa tahun lalu.
"Banyak orang berbicara tentang keindahan Pantai Pink. Namun yang saya lihat kali ini lebih dari sekadar pasir berwarna kemerahan dan laut biru yang memukau. Saya melihat kawasan yang semakin hijau," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Mataram.
Bale Beleq Pejanggik: Pusat Pengetahuan Kolektif Masyarakat Sasak
Perjalanan Gubernur dimulai dari Lombok Tengah, tepatnya di Bale Beleq Pejanggik. Di rumah adat yang menjadi simbol sejarah Kerajaan Pejanggik itu, Gubernur berdiskusi dengan para pemangku adat dan pemerintah daerah. Ia melihat bahwa bangunan tersebut bukan sekadar cagar budaya, melainkan pusat pengetahuan kolektif yang menyimpan cara pandang tentang ruang, air, tanah, dan hubungan sosial masyarakat Lombok selama ratusan tahun.
"Sering kali kita memandang kebudayaan hanya sebagai tarian, musik, rumah adat, atau upacara tradisional. Padahal jauh sebelum istilah konservasi, keberlanjutan, dan pembangunan hijau dikenal, masyarakat Nusantara telah memiliki sistem budaya yang mengajarkan bagaimana manusia hidup selaras dengan alam," kata Zulkieflimansyah.
Tiga Filosofi Adat yang Jadi Pilar Ekologis NTB
Gubernur menyebut tiga nilai budaya utama yang masih hidup di NTB. Masyarakat Sasak memiliki aturan adat yang mengatur tata kelola ruang hidup. Masyarakat Samawa mewarisi filosofi yang menempatkan kehormatan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari hubungan manusia dengan lingkungan. Sementara masyarakat Mbojo memiliki nilai Maja Labo Dahu, rasa malu dan takut berbuat salah, termasuk terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan.
"Nilai-nilai budaya tersebut sesungguhnya adalah fondasi ekologis yang diwariskan turun-temurun. Menjaga budaya pada hakikatnya juga berarti menjaga lingkungan," tegasnya.
Mega Diversity di Satu Lokasi: Gua Jepang dan Habitat Satwa Langka
Di kawasan yang sama dengan Pantai Pink, Gubernur juga menyambangi Gua Jepang, peninggalan Perang Dunia II yang kini menjadi cagar budaya NTB. Menariknya, kawasan itu juga menjadi habitat satwa unik yang diyakini memiliki sebaran sangat terbatas di Lombok.
"Dalam satu lokasi, kita menemukan sejarah, budaya, geologi, dan keanekaragaman hayati yang hidup berdampingan. Inilah bentuk nyata dari apa yang sering disebut sebagai mega diversity," ujar Zulkieflimansyah.
Potensi Rinjani hingga Sembalun: Modal Pembangunan Daerah
Dalam beberapa bulan terakhir, Gubernur juga sempat meninjau kawasan utara Lombok, dari kaki Gunung Rinjani hingga kawasan Sembalun. Ia mengagumi hamparan perbukitan hijau, lembah pertanian, sumber mata air, hutan pegunungan, dan desa-desa tradisional yang masih asri.
Menurut Gubernur, NTB bukan hanya kaya budaya. Provinsi ini juga kaya bentang alam, tradisi, bahasa, sejarah, dan biodiversitas. "Kekayaan itu saling terhubung membentuk sebuah ekosistem besar yang menjadi modal pembangunan daerah. Kebudayaan mengajarkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian dari identitas dan keberlangsungan hidup manusia," pungkasnya.