MATARAM — Rencana Panji Petualang untuk membuat konten bersama Agam Rinjani soal satu tahun evakuasi jenazah Juliana Marins di Gunung Rinjani resmi dibatalkan. Pembatalan itu diumumkan langsung oleh Panji setelah unggahan awal mereka memicu gelombang penolakan dari komunitas pendaki dan warga lokal di Lombok.
Dalam video klarifikasinya, Panji mengaku tidak menyangka bahwa ide peliputan tersebut justru menimbulkan reaksi negatif. Ia juga menyatakan tidak mengetahui adanya persoalan yang belum terselesaikan antara Agam Rinjani dengan sejumlah pihak di Lombok.
Kronologi Penolakan: Dari Unggahan ke Jakarta hingga Gelombang Protes
Polemik bermula ketika Panji mengunggah video pertemuannya dengan Agam Rinjani di Jakarta. Dalam unggahan itu, ia menyematkan gelar "Pawang Gunung Rinjani" kepada Agam. Sebutan tersebut langsung memicu kemarahan sejumlah kalangan, termasuk Suku Sasak dan para relawan yang selama ini aktif dalam kegiatan konservasi dan penyelamatan di Rinjani.
“Aku minta maaf ya terkait video postingan kemarin bareng Bang Agam di Jakarta,” ujar Panji dalam klarifikasinya.
Ia menambahkan bahwa pertemuan dengan Agam terjadi secara tidak sengaja. Dari obrolan santai itulah muncul gagasan untuk membuat peliputan khusus. Namun, niat baik itu kandas karena resistensi dari komunitas lokal.
Permintaan Maaf untuk Warga Sasak dan Relawan
Panji secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Suku Sasak, para relawan, porter, dan seluruh elemen yang selama ini terlibat dalam aktivitas pendakian di Gunung Rinjani. Ia mengakui bahwa penggunaan istilah "Pawang Gunung Rinjani" adalah kesalahan pribadi yang tidak didasari pemahaman mendalam tentang dinamika sosial di kawasan tersebut.
“Saya minta maaf untuk keluarga saya di Lombok, khususnya untuk Suku Sasak dan teman-teman relawan di sana. Semoga nanti kita bisa bertemu dalam kesempatan lain,” ucapnya.
Dalam pernyataannya, Panji juga menekankan rasa hormatnya kepada seluruh pihak yang berkontribusi menjaga kelestarian Gunung Rinjani. Ia berharap suatu saat bisa datang langsung ke Lombok untuk bertatap muka dengan masyarakat setempat.
Apa yang Sebenarnya Terjadi Antara Agam Rinjani dan Komunitas Lokal?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Agam Rinjani terkait polemik yang melibatkan dirinya. Namun, penolakan keras dari warga dan porter di Rinjani mengindikasikan adanya persoalan personal atau etika yang belum tuntas antara Agam dengan komunitas pendaki setempat.
Para relawan dan porter di kawasan Rinjani selama ini dikenal sebagai garda terdepan dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di gunung. Mereka kerap bekerja tanpa pamrih, termasuk saat proses evakuasi jenazah Juliana Marins yang berlangsung dramatis setahun lalu. Rencana peliputan yang dianggap meraup keuntungan dari tragedi kemanusiaan itulah yang menjadi pemicu utama penolakan.
Panji pun mengakui kekeliruannya dan berharap situasi ini bisa menjadi pembelajaran. “Salam Lestari, Salam Konservasi. Teruntuk teman-teman di Rinjani, khususnya untuk para relawan, volunteer, porter, dan masyarakat Suku Sasak serta yang lainnya, sahabatku semua di sana,” tutupnya.