PRAYA — Sejumlah aturan baru langsung diberlakukan pada putaran kedua musim ini. Salah satu yang paling kentara adalah hukuman bagi pembalap yang melakukan jump start saat start balapan. Mereka akan dikenai dua kali long lap penalty, atau harus melewati jalur khusus yang lebih panjang di lintasan sebagai sanksi.
Arif Syahbani menjelaskan, aturan itu mengacu langsung pada regulasi FIM yang selama ini dipakai di kejuaraan dunia seperti MotoGP dan WorldSBK.
Peserta Gagal Kualifikasi? Masih Bisa Balapan
Regulasi lain yang baru diterapkan menyangkut peserta yang tidak mencatatkan waktu saat sesi kualifikasi karena masalah teknis pada motornya. Jika mendapat persetujuan dari Race Direction, mereka tetap diizinkan mengikuti balapan dengan start dari pit exit.
“Perubahan regulasi sesuai standar FIM ini dilakukan secara bertahap,” ujar Arif Syahbani saat ditemui di Sirkuit Mandalika, Sabtu (20/6).
Menurutnya, penerapan standar internasional ini bukan sekadar ganti aturan. Lebih dari itu, ini adalah strategi jangka panjang untuk mempersiapkan pembalap Indonesia agar tidak kaget saat berlaga di kejuaraan level lebih tinggi.
Regenerasi Pembalap Muda Jadi Target Utama
Penyelenggara, yang terdiri dari Mandalika Grand Prix Association (MGPA), PRIDE Motorsport, dan Ikatan Motor Indonesia (IMI), berharap ajang ini terus melahirkan pembalap berprestasi hingga tingkat dunia. Perhatian khusus diberikan pada kelas junior sebagai lumbung bakat nasional.
“Kami berharap Kejurnas Pertamina Mandalika Racing Series terus melahirkan regenerasi pembalap berprestasi hingga tingkat dunia, terutama dari kelas junior,” tambah Arif.
Pertamina: Event Ini Dongkrak Ekonomi Lokal
Di luar aspek teknis balapan, penyelenggara juga menggaungkan prinsip ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial dalam setiap seri MRS. Manager Corporate Brand PT Pertamina, Alih Istik Wahyuni, menegaskan dukungan perusahaannya terhadap perkembangan motorsport nasional melalui ajang ini.
“Ini merupakan komitmen Pertamina sebagai motor penggerak pembangunan nasional melalui penyediaan energi berkualitas, percepatan transisi energi, dan pengembangan energi berkelanjutan untuk mendukung ekonomi nasional,” ujarnya.
Alih menambahkan, setiap penyelenggaraan event diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ia mencontohkan, ajang ini telah menjadi sarana pembinaan nyata yang melahirkan pembalap muda Indonesia yang mampu tampil di tingkat internasional.
“Event ini telah memberikan dampak nyata dalam pembinaan pembalap muda Indonesia, dengan melahirkan pembalap yang mampu tampil di tingkat internasional,” pungkasnya.