NUSA TENGGARA BARAT — Gelombang kerusuhan di sejumlah kota besar Prancis sejak Sabtu (17/10) mulai menekan sektor pariwisata negara itu. Pemesanan hotel di Paris, Lyon, dan Marseille melemah, sementara sejumlah wisatawan asing mempertimbangkan ulang rencana liburan mereka. Prancis sendiri biasa menerima sekitar 100 juta wisatawan per tahun dengan belanja lebih dari 70 miliar euro.
Christelle Cassagne, pimpinan ADN Tourisme yang menaungi institusi pariwisata Prancis, menyampaikan kekhawatiran terbuka soal dampak kerusuhan terhadap industri. Menurut dia, lonjakan kekerasan di pusat kota Nice, Paris, dan Lyon merusak pengalaman wisatawan yang datang untuk menikmati kota, bukan untuk mengurung diri di kamar hotel.
"Lonjakan kekerasan di pusat kota Nice, Paris, dan Lyon sangat merusak. Mereka memesan hotel berhari-hari bukan untuk terisolasi," kata Cassagne, seperti dilansir AFP, Kamis (22/10/2026).
Kota Besar Jadi Titik Paling Terdampak
Sejak Sabtu (17/10), bentrokan dengan polisi, kebakaran gedung publik, penjarahan toko, dan kelompok pemuda bertopeng yang berkeliaran di jalanan menjadi sorotan media internasional. Citra Prancis sebagai destinasi wisata berkafe dan bernuansa romantis ikut terganggu.
Penutupan Museum Louvre di Paris pada Senin (19/10) akibat aksi sekelompok mahasiswa di pintu masuk menambah kekecewaan wisatawan. Seorang wisatawan asal India yang menginap di Paris mengaku sempat mempertimbangkan ulang kunjungannya.
"Sejujurnya, kami tidak yakin apakah akan tetap melanjutkan masa tinggal kami," ungkapnya.
Pemesanan Hotel Melemah di Paris, Lyon, Marseille
Penurunan pemesanan mulai terasa di kota-kota besar seperti Paris, Lyon, dan Marseille. Pimpinan perusahaan riset pariwisata Protourisme, Didier Arino, menyebut dampak kerusuhan bergantung pada situasi beberapa pekan ke depan.
Arino memperkirakan satu hari kerusuhan di pusat Paris dapat memicu pembatalan sekitar 1% dari total pemesanan bulanan pada hari-hari berikutnya. Dari total 42 juta malam menginap di hotel sepanjang 2026, angka pembatalan memang terlihat kecil, tetapi situasinya bisa membesar jika kerusuhan berlanjut.
Wisatawan dari negara yang jauh, kata Arino, cenderung lebih sensitif terhadap risiko keamanan. Amerika Serikat, China, dan Jerman telah mengeluarkan imbauan perjalanan bagi warganya yang hendak ke Prancis.
Durasi Kerusuhan Jadi Penentu
Pimpinan dewan eksekutif grup agen perjalanan Selectour, Laurent Abitbol, menilai lama kerusuhan akan menentukan besarnya dampak terhadap pariwisata.
"Jika ini berlangsung selama dua pekan, dampaknya tidak terlalu serius. Namun, jika berlanjut selama beberapa bulan, akibatnya akan sangat buruk," tegas Abitbol.
Abitbol menyoroti pula pengaruh pemberitaan media internasional terhadap persepsi wisatawan. "Ketika menonton CNN, Fox News, BBC, dan media lainnya, orang bisa mengira Prancis sedang berada dalam kondisi perang. Itu tidak baik," lengkapnya.
Data MKG: Kenaikan Pemesanan Menyusut
Perusahaan konsultan MKG Consulting mencatat penurunan pemesanan hotel di Paris sejak 17 Oktober, terutama untuk enam pekan ke depan. Pada 19-20 Oktober, kenaikan pemesanan kamar untuk periode 20-29 Oktober dibandingkan tahun sebelumnya menyusut dari 1% menjadi 0,2%.
Kenaikan pemesanan untuk periode 20-25 Oktober turun dari 3,5% menjadi 1,9%. MKG menyebut pelemahan paling terlihat pada pemesanan jangka pendek dan hotel kelas atas, mengingatkan pada situasi saat demonstrasi Rompi Kuning melanda Paris pada Desember 2018.
Bagi traveler Indonesia yang sudah memegang tiket ke Prancis dalam waktu dekat, pantau perkembangan situasi kota tujuan dan imbauan resmi pemerintah setempat sebelum berangkat. Informasi terkini soal kondisi keamanan dan operasional objek wisata dapat dikonfirmasi melalui kedutaan atau dinas pariwisata setempat.