Dolar AS Menguat Tipis Tertekan Konflik Iran dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed

Penulis: Zaki Mubarak  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 08:52:01 WIB
Dolar AS menguat tipis terdorong eskalasi konflik Iran dan sinyal kenaikan suku bunga The Fed.

NUSA TENGGARA BARAT — Di pasar domestik, kurs referensi Bank Indonesia menempatkan nilai tukar rupiah pada level yang masih tertekan. Sementara itu, di pasar global, indeks dolar AS (DXY) mencatat kenaikan tipis pada Senin (14/7) karena investor beralih ke aset safe haven di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.

Konflik AS-Iran dan Sinyal The Fed Jadi Pemicu Utama

Dua faktor utama mendorong penguatan dolar AS. Pertama, Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran, dan menegaskan AS akan menjamin jalur pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur strategis perdagangan energi global—dengan syarat kapal-kapal membayar biaya. Langkah ini mempertegas ketegangan setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone skala besar sepanjang akhir pekan.

Kedua, Gubernur The Fed Christopher Waller mengisyaratkan bahwa suku bunga mungkin perlu dinaikkan dalam waktu dekat jika data ekonomi menunjukkan inflasi tetap jauh di atas target 2%. Pasar pun menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Selasa dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Rabu, yang akan menjadi acuan bagi langkah The Fed selanjutnya.

Harga Minyak Melonjak, Yen Jepang Kembali Terpuruk

Eskalasi konflik langsung mendorong harga minyak mentah Brent naik lebih dari 9% ke level US$83,30 per barel—level tertinggi dalam sebulan. Kenaikan harga energi ini berpotensi menambah tekanan inflasi global, termasuk di Indonesia yang masih menjadi importir minyak.

Di Asia, yen Jepang kembali terdepresiasi terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY naik 0,46% ke 162,43, mendekati level terendah dalam 40 tahun. Pelemahan ini terjadi setelah Reuters melaporkan bahwa pemerintah Jepang tidak memiliki rencana segera untuk menyesuaikan alokasi aset dana pensiun negara, yang sebelumnya menjadi salah satu instrumen yang bisa menopang yen.

Pergerakan Mata Uang Utama Lainnya

  • Euro turun 0,26% ke US$1,1383 per euro.
  • Poundsterling Inggris melemah 0,40% ke US$1,3352 per pound.
  • Dolar Australia turun 0,47% ke US$0,6917 per dolar Australia.

Dampak ke Rupiah dan Pasar Indonesia

John Velis, ahli strategi makro untuk wilayah Amerika di BNY, menilai bahwa investor masih memiliki ruang untuk meningkatkan kepemilikan USD jika fundamental terus mendukung. "Perkembangan pasar menunjukkan bahwa investor masih memiliki ruang untuk meningkatkan kepemilikan USD mereka jika fundamental terus mendukung dolar AS," ujarnya.

Bagi Indonesia, penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak menjadi tekanan ganda. Rupiah berpotensi terdepresiasi lebih lanjut sementara biaya impor energi meningkat. Pelaku pasar disarankan mencermati rilis data inflasi AS pekan ini serta pernyataan pejabat The Fed selanjutnya, yang akan menentukan arah pergerakan kurs dalam jangka pendek.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: vietnam.vn This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top