Dua dosen STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima, Ahyar, M.Pd. dan Anisah, M.Pd., resmi mengikuti Training of Facilitators (ToF) Pilot Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial untuk Pemahaman Bacaan di Bekasi. Kegiatan yang berlangsung pada 19–22 Agustus 2026 ini menempatkan keduanya sebagai perwakilan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Universitas Mataram (Unram).
BIMA — Dua pengajar STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima dikirim mengikuti Training of Facilitators (ToF) Pilot Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial untuk Pemahaman Bacaan. Kegiatan berlangsung di Aston Bekasi Hotel & Convention Center pada 19–22 Agustus 2026, diikuti 32 peserta dari berbagai lembaga di Indonesia.
Ahyar, M.Pd. dan Anisah, M.Pd. hadir mewakili LPTK NTB. Selain STKIP Tamsis Bima, Universitas Mataram (Unram) juga turut mengirimkan perwakilannya dalam agenda nasional ini.
Keikutsertaan kedua dosen ini bukan tanpa alasan. Ahyar menegaskan bahwa peran LPTK dalam program ini jauh lebih besar dari sekadar menjadi peserta pelatihan.
"Keterlibatan kami sebagai LPTK bukan sekadar menjadi peserta, tetapi juga bagian dari upaya mengawal implementasi pilot ini di lapangan. Terutama dalam hal monitoring, evaluasi, dan dokumentasi proses pembelajaran," kata Ahyar, Kamis (20/8/2026).
ToF ini merupakan lanjutan dari Workshop Persiapan Pilot yang sebelumnya membahas konsep, pendekatan, serta blueprint program melalui kerangka Theory of Change (ToC). Kini, para peserta dibekali kapasitas sebagai calon fasilitator yang akan mendampingi pelaksanaan pilot di wilayah sasaran masing-masing.
Materi pelatihan difokuskan pada penguatan dua kemampuan utama dalam memahami bacaan. Pertama, berpikir kritis yang menekankan penggunaan pertanyaan, bukti, alasan, dialog, serta evaluasi dan refleksi untuk membangun pemahaman terhadap teks.
"Sementara pada aspek inferensial, kami belajar bagaimana menarik inferensi dari bacaan, yaitu membangun pemahaman berdasarkan informasi yang tersedia dalam teks dan menghubungkan berbagai petunjuk untuk memperoleh makna yang tidak selalu disampaikan secara langsung," jelas Ahyar.
Sejumlah sesi intensif digelar untuk memperdalam materi tersebut. Di antaranya "Membaca dan Berpikir Kritis untuk Pemahaman Bacaan", "Tiga Tingkat Pertanyaan untuk Memperkuat Pemahaman Bacaan", hingga "Menarik Inferensi dari Bacaan".
Selain penguasaan materi, para calon fasilitator juga dibekali teknis pelaksanaan pilot di lapangan. Mereka mengikuti diskusi persiapan kabupaten, mempelajari kerangka monitoring dan evaluasi, instrumen baseline, hingga simulasi mekanisme pelaksanaan baseline.
"Bagian teknis ini penting karena fasilitator tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga harus siap turun langsung mendampingi pelaksanaan baseline dan memastikan data yang terkumpul di lapangan valid dan dapat dipertanggungjawabkan," tegas Ahyar.
Anisah menambahkan, pembekalan ini membantu calon fasilitator memahami materi sekaligus strategi penerapannya melalui pembelajaran berbasis teks dan dialog. Ia berharap program ini benar-benar berdampak nyata di kelas.
"Harapannya, apa yang telah dirumuskan dalam Theory of Change pada tahap sebelumnya benar-benar bisa diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang konkret di kelas. Sehingga kemampuan berpikir kritis dan inferensial anak-anak dalam memahami bacaan dapat tumbuh secara nyata," ujar Anisah.
Keterlibatan STKIP Tamsis Bima dalam kegiatan nasional ini memperkuat kontribusi LPTK daerah dalam pengembangan literasi. Program pilot ini melibatkan Kemendikdasmen, Kementerian Agama RI, tim INOVASI, konsultan internasional, serta LPTK dari sejumlah wilayah Indonesia.