NUSA TENGGARA BARAT — Gus Lilur menegaskan bahwa muktamar seharusnya berjalan dengan prinsip kemandirian dan kebebasan para kiai dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi. Ia mengingatkan agar penyelenggaraan muktamar tidak diwarnai intervensi dari kekuasaan eksekutif yang dapat mendelegitimasi hasil musyawarah besar tersebut.
"Jangan ada yang membawa-bawa nama Presiden Prabowo atau menggunakan fasilitas kekuasaan untuk kepentingan politik pribadi dalam Muktamar ke-35 NU," ujarnya, menggarisbawahi kekhawatirannya terhadap potensi konflik kepentingan dalam proses regenerasi kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama.
Prinsip Kemandirian NU dalam Proses Suksesi
Pernyataan Gus Lilur muncul sebagai respons atas manuver politik sejumlah pihak yang dinilai mulai memanfaatkan kedekatan dengan pusat kekuasaan untuk memenangkan calon tertentu. Menurut Gus Lilur, tradisi musyawarah di lingkungan NU harus dijaga dari intervensi eksternal agar keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan aspirasi warga dan kiai di akar rumput.
Ia menekankan bahwa sejarah NU telah membuktikan kemampuan organisasi ini untuk menyelesaikan persoalan internal secara mandiri. Kemandirian tersebut, lanjutnya, menjadi modal utama NU dalam menjalankan peran sebagai penjaga moral bangsa dan mitra kritis pemerintah.
Pesan untuk Para Elite dan Kiai
Gus Lilur mengajak seluruh kiai dan pengurus untuk menjadikan muktamar sebagai ajang memperkuat persatuan, bukan ajang perebutan kekuasaan yang merusak soliditas organisasi. Ia berharap para pemilih nantinya didasarkan pada kapasitas dan komitmen calon untuk membesarkan NU, bukan karena faktor kedekatan dengan penguasa.
"Pilih pemimpin yang benar-benar bisa membawa NU ke arah yang lebih baik, yang amanah dan tidak terjebak pada kepentingan sesaat. Jangan sampai muktamar ini hanya menjadi panggung bagi kepentingan politik pribadi," tegasnya.
Menjaga Marwah Organisasi dari Kepentingan Sesaat
Lebih lanjut, Gus Lilur menyampaikan bahwa intervensi kekuasaan dalam muktamar dapat merusak marwah organisasi dan menurunkan kepercayaan publik terhadap NU. Ia mengingatkan bahwa NU lahir dari perjuangan para ulama yang tidak pernah tunduk pada tekanan penguasa mana pun.
Ia berharap seluruh elemen NU dapat menjaga kondusivitas menjelang dan selama pelaksanaan muktamar. Dengan begitu, muktamar ke-35 ini dapat menghasilkan kepemimpinan yang kuat, kredibel, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pengurus besar NU terkait pernyataan Gus Lilur tersebut. Namun, pernyataan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak untuk menjaga independensi organisasi dari campur tangan kekuasaan.