MATARAM — Aktivitas bermain di lingkungan sekolah dasar di Kota Mataram mulai diarahkan menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar pengisi waktu luang. Dua sekolah mitra, SD Negeri 1 Kekait dan SD Negeri 24 Mataram, menjadi lokasi penerapan FunFit School Program yang berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Program ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin terbatasnya ruang gerak anak serta menurunnya interaksi sosial langsung di tengah perubahan pola kehidupan. Tim pengabdian mengintegrasikan permainan edukatif dan permainan tradisional NTB ke dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler.
Sejumlah permainan tradisional khas daerah diperkenalkan kepada siswa, di antaranya kideng, bejingklak batu 5, papuk singgak batek, kudung, batu jumpring, belompongan, dan manuk kurung. Permainan-permainan ini tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan aktivitas fisik, tetapi juga menjadi media pembelajaran karakter.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Prayogi Dwina Angga, S.Or., M.Pd., menyebut anak usia sekolah dasar membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, berinteraksi, sekaligus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
“Ketika bermain, anak bukan hanya bergerak. Mereka belajar menunggu giliran, menaati aturan, bekerja sama, mengambil keputusan, menerima kemenangan maupun kekalahan, dan menghargai teman,” jelas Prayogi, Kamis (27/8).
Menurutnya, aktivitas bermain yang terstruktur memberikan manfaat nyata bagi perkembangan kemampuan motorik dasar siswa, mulai dari koordinasi, keseimbangan, kelincahan, ketepatan, hingga kontrol gerak.
Prayogi menegaskan bahwa pembiasaan aktivitas fisik sejak sekolah dasar berkaitan erat dengan pembangunan olahraga dalam jangka panjang. Prestasi olahraga membutuhkan fondasi kemampuan motorik yang dibangun sejak usia dini.
“Kita tidak bisa berbicara olahraga prestasi tanpa memperhatikan fondasinya. Fondasi itu salah satunya adalah kemampuan motorik dan kebiasaan bergerak sejak usia dini,” tegasnya.
Sekolah dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan tersebut karena menjadi lingkungan yang mampu menjangkau anak secara berkelanjutan. Program ini diharapkan berkembang menjadi gerakan pembudayaan aktivitas fisik dan permainan di lingkungan sekolah.
“Dari permainan, kita membangun kebiasaan bergerak. Dari kebiasaan bergerak, kita membangun anak yang lebih sehat dan percaya diri. Dari fondasi itulah dapat tumbuh generasi yang siap berkembang, termasuk dalam bidang olahraga prestasi,” pungkas Prayogi.