Pencarian

Lombok Tengah Masih Darurat Bencana hingga Maret 2026

Selasa, 24 Februari 2026 • 12:44:04 WIB
Lombok Tengah Masih Darurat Bencana hingga Maret 2026
Status darurat bencana di Lombok Tengah diperpanjang hingga Maret 2026.

Lombok Tengah - Status darurat bencana di Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), masih diberlakukan hingga Maret 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi cuaca ekstrem pada akhir Februari 2026.

Kepala BPBD Lombok Tengah Ridwan Maruf menegaskan penetapan status darurat telah berlangsung sejak November 2025 dan belum dicabut. “Lombok Tengah masih tetap status darurat bencana mulai November 2025 hingga Maret 2026,” kata Ridwan di Lombok Tengah, Selasa.

Menurut dia, kondisi cuaca yang sempat normal kembali berubah dalam beberapa hari terakhir. Hujan disertai angin kencang masih terjadi berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Hujan saat ini masih terjadi pada akhir Februari 2026," katanya.

BPBD mengingatkan potensi dampak yang bisa muncul akibat cuaca ekstrem, seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. Masyarakat diminta lebih berhati-hati, terutama ketika hujan lebat disertai angin kencang melanda.

"Kami imbau masyarakat tetap waspada saat terjadi hujan lebat yang disertai angin kencang," katanya.

Sementara itu, BMKG sebelumnya melaporkan penguatan Monsun Asia berpotensi meningkatkan curah hujan di wilayah NTB dalam beberapa hari ke depan. Fenomena tersebut dinilai memicu peningkatan intensitas hujan secara signifikan.

"Kami mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB Ari Wibianto saat dihubungi di Mataram, Minggu.

Ari menjelaskan penguatan Monsun Asia membawa Angin Baratan yang cukup kuat sehingga mempercepat pembentukan awan konvektif, khususnya di wilayah barat dan selatan Indonesia. Dampaknya, intensitas serta sebaran hujan di NTB meningkat.

Selain itu, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif turut memengaruhi dinamika atmosfer. Kondisi tersebut diperkuat oleh tingginya kelembapan udara dan labilitas atmosfer yang mendukung terbentuknya hujan lebat, baik berskala lokal maupun meluas.

"Peningkatan cuaca (ekstrem) di wilayah NTB masih berpotensi hingga tiga hari ke depan," ujar Ari.

BMKG juga mengingatkan potensi dampak lanjutan berupa banjir, tanah longsor, hingga gangguan pada transportasi darat, laut, dan udara. Masyarakat diimbau menyesuaikan rencana aktivitas, terutama kegiatan luar ruangan, serta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks