Pencarian

Ekonomi NTB Melesat 13,64 Persen, Angka Pengangguran Turun ke 2,99 Persen

Rabu, 06 Mei 2026 • 09:24:03 WIB
Ekonomi NTB Melesat 13,64 Persen, Angka Pengangguran Turun ke 2,99 Persen
Pertumbuhan ekonomi NTB mencapai 13,64 persen pada awal 2026 dengan PDRB Rp52,62 triliun.

MATARAM — Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatatkan performa ekonomi impresif dengan pertumbuhan mencapai 13,64 persen secara tahunan (y-on-y) pada awal tahun 2026. Lonjakan ini berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja yang semakin optimal di berbagai sektor produktif.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melaporkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku kini menyentuh Rp52,62 triliun. Sementara itu, jika diukur berdasarkan harga konstan 2010, nilainya berada di angka Rp29,68 triliun.

Efek Smelter Picu Lonjakan Industri Pengolahan 60 Persen

Sektor industri pengolahan menjadi motor utama penggerak ekonomi NTB dengan pertumbuhan fantastis mencapai 60,25 persen. Kenaikan tajam ini dipicu oleh operasional smelter yang mulai memberikan nilai tambah signifikan pada komoditas unggulan daerah.

Selain industri pengolahan, sektor pertambangan dan penggalian turut menyumbang pertumbuhan sebesar 31,80 persen. Peningkatan produksi konsentrat menjadi faktor kunci yang menjaga stabilitas pendapatan daerah dari sektor ekstraktif tersebut.

“Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 60,25 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 91,87 persen,” ungkap Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Selasa (5/5/2026).

Kualitas Tenaga Kerja: Pekerja Sektor Formal Terus Meningkat

Membaiknya kondisi ekonomi berdampak langsung pada bursa kerja lokal. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di NTB kini tersisa 2,99 persen, atau turun 0,23 persen poin dibandingkan periode Februari 2025. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mencatat ada 3,14 juta orang yang telah bekerja.

Tren positif juga terlihat pada pergeseran kualitas pekerja. Saat ini, proporsi pekerja formal di NTB naik menjadi 29,51 persen, meningkat 1,31 persen poin dari tahun sebelumnya. Hal ini menandakan ekosistem kerja di NTB mulai bergerak ke arah yang lebih stabil dan terjamin secara regulasi.

“Pada Februari 2026 sebanyak 926,27 ribu orang (29,51 persen) bekerja pada kegiatan formal, naik sebesar 1,31 persen poin dibanding Februari 2025,” jelas Wahyudin.

Bagaimana Kontribusi Sektor Pertanian dan Ekspor?

Meski industri manufaktur tumbuh pesat, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi penyerap tenaga kerja paling dominan. Sektor ini menampung 32,86 persen dari total penduduk bekerja, seiring dengan meluasnya area panen dan peningkatan aktivitas produksi petani lokal.

Di sisi lain, kinerja ekspor NTB mencatatkan rekor pertumbuhan 91,87 persen. Kenaikan ini didominasi oleh pengiriman komoditas tambang dan hasil olahan industri yang pada tahun lalu sempat melambat. Aktivitas ekspor yang agresif ini menjadi penyeimbang utama neraca ekonomi daerah.

Kendati menunjukkan tren tahunan yang kuat, ekonomi NTB secara triwulanan (q-to-q) mengalami kontraksi 1,30 persen dibandingkan Triwulan IV-2025. BPS menilai penurunan ini merupakan dinamika musiman yang wajar terjadi pada transisi siklus produksi industri dan jadwal ekspor di awal tahun.

Bagikan
Sumber: radarlombok.co.id

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks