MATARAM — Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menetapkan batas waktu inkubasi bagi UMKM maksimal tiga tahun. Langkah ini ditempuh untuk memutus rantai ketergantungan pelaku usaha pada pendampingan pemerintah dan perbankan.
“Ideal inkubasi maksimal tiga tahun. Tahun pertama adalah untuk startup, tahun kedua pengembangan diversifikasi produk, dan tahun ketiga adalah komersialisasi penuh,” ujar Iqbal saat menghadiri acara Karya Kreatif NTB 2026 di Epicentrum Mall, Mataram, Jumat.
Pembinaan Tak Kunjung Berujung Kemandirian
Iqbal menyoroti temuan di lapangan yang menunjukkan sejumlah UMKM hanya sekadar mengikuti pameran dari tahun ke tahun tanpa ada perubahan signifikan pada skala usahanya. Menurutnya, pola pembinaan yang berkepanjangan justru menjadi indikasi kegagalan program inkubasi.
“Setiap pemberdayaan harus berujung dengan kemandirian. Kalau inkubasi tidak pernah berujung dengan kemandirian, maka inkubasi itu gagal,” tegasnya.
Target Lahirkan UMKM Baru Setiap Tahun
Gubernur meminta lembaga pembina, mulai dari Bank Indonesia hingga Bank NTB Syariah, memperkuat pola inkubasi yang terukur. Targetnya, setiap tahun harus ada pelaku usaha baru yang lahir dari berbagai daerah di NTB.
Iqbal menilai NTB memiliki banyak potensi UMKM tersembunyi atau hidden gems yang tersebar dari Kecamatan Ampenan di Kota Mataram hingga Kecamatan Sape di Kabupaten Bima. Setelah masa inkubasi berakhir, pelaku usaha diharapkan mampu menentukan segmen pasar sendiri dan berkembang menjadi produk premium.
Potensi Industri Kreatif di Ajang Karya Kreatif NTB 2026
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB, Hario Kartiko Pamungkas, menyatakan bahwa ajang Karya Kreatif NTB 2026 menjadi wadah bagi UMKM untuk meningkatkan akses pasar dan pembiayaan. Acara yang mengusung tema “Harmoni Kreatif Sasambo” ini digelar pada 15–17 Mei 2026 di Lombok Epicentrum Mall.
“Kami memberikan kesempatan bagi UMKM terkhusus bidang wastra dan kriya, serta pelaku ekonomi kreatif lainnya untuk dapat terus meningkatkan level akses pasar maupun juga akses pembiayaan,” kata Hario.
Rangkaian acara tahunan ini mencakup pameran produk kreatif, fashion show, kompetisi barista, hingga talkshow edukatif. Produk unggulan seperti wastra, kuliner, dan kerajinan khas suku Sasak, Samawa, serta Mbojo diharapkan mampu memiliki daya saing global melalui momentum ini.