JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Berdasarkan data pasar Investing.com pukul 09.11 WIB, mata uang Garuda melemah 0,64 persen dalam sehari. Indeks Dolar AS ikut menguat 0,26 persen ke posisi 98,987, menandakan dolar sedang perkasa di hadapan hampir semua mata uang global.
Penguatan dolar ini dipicu oleh meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) akhir tahun ini. Para pedagang bereaksi terhadap data inflasi dan penjualan ritel AS yang dirilis pekan ini, yang dinilai masih cukup panas. Alat CME FedWatch menunjukkan ekspektasi kenaikan bunga hampir sepenuhnya pulih.
Konflik Timur Tengah dan Kunjungan Trump Ikut Bebani Rupiah
Dua faktor eksternal turut memperkeruh suasana. Pertama, lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang terus menekan biaya impor energi Indonesia. Kedua, sorotan pasar tertuju pada kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok, di mana para pelaku menanti terobosan soal tarif dagang dan isu Iran.
Kenaikan suku bunga AS dan harga minyak yang tinggi menjadi kombinasi berbahaya bagi negara pengimpor seperti Indonesia. Suku bunga yang lebih tinggi membuat dolar semakin atraktif, sementara harga energi yang mahal memperlebar defisit transaksi berjalan.
Menkeu Purbaya: Intervensi Obligasi Mulai Berjalan
Merespons situasi ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak tinggal diam. Ia menyatakan akan mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak terlalu tinggi.
"Gunakan Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan," ucap Purbaya dalam keterangannya, Jumat (15/5).
Fakta Singkat Pelemahan Rupiah Pagi Ini
- Nilai tukar rupiah: Rp17.609 per dolar AS (melemah 111,5 poin atau 0,64 persen)
- Indeks Dolar AS: naik 0,26 persen ke 98,987
- Pemicu utama: ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak global
- Respons pemerintah: aktivasi Bond Stabilization Fund (BSF) oleh Kemenkeu mulai 13 Mei 2026
APBN Disebut Masih Aman, Tugas Utama di Tangan BI
Meski rupiah terus tertekan, Purbaya meyakini keuangan negara tetap aman. Pemerintah telah menghitung simulasi efek kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah ke dalam APBN hingga akhir tahun. Artinya, asumsi makro dalam anggaran masih bisa menahan guncangan ini.
Namun, Menteri Keuangan menegaskan bahwa penanganan utama nilai tukar tetap menjadi ranah Bank Indonesia. Kemenkeu hanya akan membantu secara bertahap lewat pasar SBN, yang intervensinya sudah mulai dijalankan sejak 13 Mei 2026. Langkah ini diharapkan bisa menahan yield obligasi agar tidak naik drastis dan mengurangi tekanan tambahan pada rupiah.