Pencarian

Rupiah Tembus Rp17.844 per Dolar AS, Melemah 37 Poin di Awal Pekan

Senin, 01 Juni 2026 • 10:29:02 WIB
Rupiah Tembus Rp17.844 per Dolar AS, Melemah 37 Poin di Awal Pekan
Rupiah melemah ke posisi Rp17.844 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pekan ini.

NUSA TENGGARA BARAT — Tekanan terhadap rupiah berlanjut di awal pekan ini. Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri; hampir seluruh mata uang regional ikut tertekan dolar AS.

Pelemahan Meluas di Asia dan Negara Maju

Won Korea Selatan menjadi yang terlemah di Asia dengan koreksi 0,71 persen. Disusul peso Filipina yang melemah 0,18 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, dan yen Jepang melemah 0,14 persen. Yuan China, dolar Singapura, serta dolar Hong Kong juga tercatat turun tipis pada pembukaan.

Dari negara maju, franc Swiss memimpin pelemahan dengan koreksi 0,27 persen. Euro Eropa melemah 0,12 persen, sementara poundsterling Inggris dan dolar Australia turun masing-masing 0,01 persen.

Analis: Rupiah Bergerak Konsolidatif, Tunggu Data Inflasi

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan berkonsolidasi. Ia melihat dua faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar: perkembangan negosiasi AS-Iran dan data ekonomi domestik.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Ia memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini berada di rentang Rp17.750 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS. Harga minyak yang sudah menurun dinilai bisa menjadi katalis positif bagi rupiah.

BI: Tekanan dari Konflik Global dan Kebutuhan Valas Musiman

Bank Indonesia (BI) sebelumnya mencatat tekanan terhadap rupiah sudah terasa selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut konflik di Timur Tengah sebagai sumber utama ketidakpastian global.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).

Selain faktor eksternal, BI juga melihat peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Kebutuhan ini berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS terbatas.

BI Siap Intervensi Penuh

BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Lembaga tersebut akan terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi.

"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.

Pasar saat ini menunggu rilis data inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan yang dijadwalkan besok. Angka-angka tersebut akan menjadi penentu arah rupiah selanjutnya dalam jangka pendek.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks