MATARAM — Industri perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih jalan berbeda di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang berlaku sejak Rabu (10/6). Ketimbang membebankan biaya tambahan ke konsumen, pelaku usaha justru menggelar berbagai promosi untuk menarik wisatawan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, mengatakan kenaikan BBM berdampak langsung pada rantai distribusi barang dan bahan kebutuhan hotel. Mulai dari biaya transportasi hingga logistik operasional ikut terdongkrak.
“Kenaikan BBM sangat berpengaruh terhadap biaya operasional hotel. Tetapi untuk saat ini kami masih berusaha menata dan menjaga agar harga kamar tidak naik,” ujarnya di Mataram, Rabu (10/6).
Okupansi Hotel Menurun, Segmen Pemerintah Ikut Lesu
Wolini mengungkapkan, tekanan terhadap industri perhotelan NTB tidak hanya datang dari kenaikan BBM. Jumlah kunjungan wisatawan tahun ini tercatat menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Daya beli masyarakat yang melemah menjadi salah satu penyebab utama.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, okupansi hotel memang menurun. Ini yang menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha perhotelan saat ini,” katanya.
Selain itu, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah turut mengurangi pelaksanaan rapat dan pertemuan di hotel. Padahal, segmen kegiatan pemerintah selama ini menjadi sumber pemasukan penting, khususnya bagi hotel-hotel kota (city hotel).
Strategi Bertahan: Promo Ketimbang Naikkan Tarif
Dalam kondisi pasar yang tidak memungkinkan untuk menaikkan harga, para pengelola hotel memilih strategi promosi agresif. Program diskon, paket menginap spesial, hingga kerja sama dengan agen perjalanan digencarkan untuk tetap menarik minat wisatawan.
“Justru sekarang hotel-hotel banyak melakukan promosi. Harapannya wisatawan tetap tertarik datang dan tingkat hunian bisa terjaga,” ujar Wolini.
Pelaku usaha juga melakukan penyesuaian internal dan efisiensi operasional untuk menekan biaya. Langkah ini ditempuh agar hotel bisa bertahan tanpa harus menaikkan tarif kamar di tengah lesunya pasar.
Hotel Resort dan City Hotel Sama-Sama Tertekan
Wolini menegaskan, tekanan yang dialami tidak hanya dirasakan hotel resort yang mengandalkan wisatawan liburan. Hotel kota yang bergantung pada kegiatan bisnis dan pemerintah juga merasakan dampak serupa.
“Semua pelaku usaha perhotelan tetap bersemangat. Baik resort maupun hotel kota sama-sama berupaya bertahan dan mencari peluang pasar. Hanya saja kondisi saat ini cukup berat karena berbagai faktor yang memengaruhi sektor pariwisata,” pungkasnya.