MATARAM — Angka stunting di Kota Mataram masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Meskipun tren penurunan terus terjadi, Dinkes setempat mencatat masih ada lebih dari 1.000 anak balita yang mengalami kondisi kekurangan gizi kronis tersebut.
Kepala Dinkes Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, mengatakan prevalensi stunting di wilayahnya saat ini berada di kisaran 5,3 persen. Angka itu turun tipis dari posisi sebelumnya yang sebesar 5,5 persen. “Pada prinsipnya kami terus berusaha menurunkan angka stunting. Tahun 2026 ini targetnya bisa berada di bawah 5 persen. Pokoknya kita kejar terus,” ujarnya, Rabu (11/6).
Target Tanpa Kasus Baru
Pemerintah Kota Mataram tidak hanya menargetkan penurunan angka prevalensi. Lebih dari itu, Pemkot ingin memastikan tidak ada lagi kasus baru stunting yang muncul. Hingga pertengahan tahun ini, Dinkes mengklaim belum menemukan tambahan kasus baru.
Capaian ini disebut sebagai hasil dari berbagai intervensi yang difokuskan pada anak usia 3–5 tahun. Namun, Kepala Dinkes mengakui bahwa penanganan pada kelompok usia tersebut lebih rumit. “Kalau intervensi stunting biasanya membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan sebelum hasilnya terlihat,” jelas Emirald.
USG Gratis di 11 Puskesmas untuk Deteksi Dini
Salah satu strategi yang dipercepat adalah deteksi dini risiko stunting sejak masa kehamilan. Dinkes Kota Mataram kini menyediakan layanan ultrasonografi (USG) gratis di 11 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan.
Layanan ini memungkinkan tenaga kesehatan memantau kondisi janin dan mendeteksi faktor risiko yang bisa memicu stunting. Langkah ini dinilai krusial karena intervensi pada ibu hamil jauh lebih efektif dibandingkan menangani anak yang sudah mengalami kekurangan gizi kronis.
Selain memperluas akses alat kesehatan, Dinkes juga memperkuat sumber daya manusia (SDM) di lapangan. Tenaga kesehatan dan kader posyandu menjadi garda terdepan dalam edukasi gizi serta pemantauan tumbuh kembang balita.
Angka Stunting Terus Menurun Sejak Oktober 2025
Data terakhir pada Oktober 2025 mencatat prevalensi stunting di Mataram sebesar 5,84 persen. Artinya, dalam kurun waktu kurang dari setahun, angka tersebut berhasil ditekan turun hingga 0,54 poin persentase menjadi 5,3 persen.
Meski penurunan terbilang positif, Dinkes tidak bisa lengah. Mempertahankan tren dan menekan angka hingga di bawah lima persen pada 2026 menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, kasus stunting di Mataram masih didominasi oleh balita, mulai dari bayi baru lahir hingga usia lima tahun.
“Kami terus berupaya menurunkan angka stunting. Target 2026 harus di bawah 5 persen,” tegas Emirald.