LOMBOK BARAT — Suasana belajar di tepi Pantai Senggigi berubah menjadi ruang diskusi internasional saat STIE AMM Mataram menggelar kuliah praktikum lintas budaya. Dua dosen tamu asing, Philipp Kaelin dari Swiss dan Paul Jackson dari Australia, duduk bersama mahasiswa semester II Program Studi D3 Keuangan dan Perbankan serta S1 Manajemen.
Belajar Etika Bisnis dari Dua Benua
Philipp dan Paul tidak sekadar mengajar tata bahasa Inggris. Mereka membedah perbedaan kebiasaan sosial, pola komunikasi, hingga etika berbisnis di negara masing-masing. Dalam sesi yang berlangsung santai, mahasiswa diajak memahami bagaimana cara masyarakat Swiss dan Australia membangun negosiasi, menyampaikan pendapat, hingga membaca bahasa tubuh lawan bicara.
“Perbedaan budaya bisa menjadi hambatan atau justru keunggulan dalam bisnis. Kami ingin mahasiswa paham kapan harus tegas dan kapan harus fleksibel,” ujar Paul Jackson di sela kegiatan, pekan lalu.
Games dan Dialog Terbuka Gantikan Suasana Kelas Kaku
Kuliah tidak berlangsung satu arah. Dosen pengampu mata kuliah, Dra. Hikmah, M.Pd., memandu berbagai permainan edukatif yang melibatkan seluruh peserta. Mahasiswa diajak berdialog langsung dengan para praktisi asing, menjawab pertanyaan spontan, dan mempraktikkan negosiasi singkat dalam Bahasa Inggris.
Pendekatan ini sengaja dipilih untuk memecah kebekuan dan meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam berkomunikasi. “Kami ingin mereka berani bicara, bukan hanya menghafal struktur kalimat,” kata Dra. Hikmah.
Kesiapan Hadapi Dunia Kerja Multikultural
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen STIE AMM Mataram untuk menghadirkan atmosfer pembelajaran yang adaptif dan berorientasi internasional. Dengan pengalaman langsung bersama praktisi asing, mahasiswa tidak hanya memperkuat kemampuan akademik, tetapi juga membangun perspektif global yang diperlukan di dunia profesional.
“Kami tidak ingin lulusan hanya pintar di atas kertas. Mereka harus siap bersaing di lingkungan kerja yang penuh dengan perbedaan budaya,” tambahnya.
Kuliah praktikum di Pantai Senggigi ini menjadi salah satu bukti bahwa pembelajaran lintas budaya tidak harus selalu di ruang kelas. Laut, pasir, dan angin pantai justru menjadi latar yang membuat diskusi tentang perbedaan budaya terasa lebih dekat dan nyata.