NUSA TENGGARA BARAT — Persaingan global untuk menguasai bahan baku energi bersih kian memanas. Hal ini membuat proses transisi energi tak lagi sekadar soal teknologi atau lingkungan, melainkan telah menjadi isu keamanan nasional dan hubungan antarnegara.
“Transisi energi bukan lagi semata-mata tantangan lingkungan atau teknologi. Saat ini telah menjadi isu geopolitik strategis yang melibatkan keamanan energi, rantai pasokan, mineral penting, daya saing industri, dan hubungan internasional,” ujar Prof Syamsir dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Mineral Kritis Jadi Medan Tempur Baru
Syamsir menjelaskan, kebutuhan besar terhadap nikel, litium, kobalt, dan tanah jarang untuk membuat kendaraan listrik, baterai, serta pembangkit listrik hijau bisa memicu persaingan baru antarnegara. Kondisi ini berisiko mengganggu rantai pasokan dan membuat harga komoditas energi masa depan tidak stabil.
Untuk mengantisipasi hal itu, setiap negara perlu melakukan diversifikasi rantai pasok mineral penting agar tidak bergantung pada satu kawasan atau negara tertentu. “Ketahanan jaringan listrik, sistem penyimpanan energi, serta pengembangan ekonomi sirkular untuk baterai dan material kritis juga menjadi faktor penting,” tegasnya.
Peluang Besar bagi Industri Dalam Negeri
Indonesia dinilai memiliki posisi tawar yang kuat. Syamsir mendorong pemerintah untuk memperkuat investasi pada kemampuan manufaktur energi terbarukan di dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah nasional dan mengurangi ketergantungan impor teknologi.
Selain itu, penguatan kerja sama energi regional juga menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan dan mempercepat pembangunan infrastruktur energi bersih. Kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi dan perluasan mekanisme pembiayaan hijau juga harus terus didorong.
“Negara-negara yang mampu mengelola keterkaitan antara keamanan energi, pembangunan industri, tata kelola mineral penting, dan kebijakan dekarbonisasi akan memperoleh keuntungan ekonomi serta strategis yang besar,” ujar Syamsir.
Kunci Sukses: Strategi Nasional yang Padu
Menurutnya, ketersediaan pendanaan yang memadai akan menjadi penentu keberhasilan proyek-proyek energi rendah karbon di negara berkembang. Bagi Indonesia, keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan seluruh aspek tersebut ke dalam strategi nasional yang koheren, adil, dan inklusif.
Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok baterai global. Namun, tanpa strategi yang jelas, peluang ini bisa berubah menjadi ketergantungan baru pada negara lain.