MATARAM — Pertumbuhan ekonomi NTB tak lagi ditopang oleh satu sektor. Kepala BPS NTB, Wahyudin, menyebut struktur perekonomian daerah mulai berubah seiring berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Meski begitu, sektor pertambangan dan penggalian masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi hingga 30,57 persen secara tahunan.
“Struktur pertumbuhan NTB justru semakin sehat karena sektor-sektor ekonomi riil tetap tumbuh positif dan menjadi penopang utama perekonomian daerah,” ujarnya dalam Berita Resmi Statistik di Kantor BPS NTB, Rabu (5/8).
Lapangan Usaha Mana yang Tumbuh Paling Cepat?
BPS mencatat seluruh 17 lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif pada Triwulan II 2026. Selain pertambangan, industri pengolahan tumbuh 7,45 persen, disusul pengadaan air dan pengelolaan sampah 6,52 persen, jasa keuangan 5,69 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 4,86 persen.
Jika dibandingkan dengan Triwulan I 2026, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum justru mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 11,42 persen. Disusul jasa lainnya 8,90 persen, transportasi dan pergudangan 6,22 persen, administrasi pemerintahan 5,87 persen, serta real estat 2,41 persen.
Pertanian Masih Jadi Punggung Ekonomi Bumi Gora
Meski pertumbuhan pertambangan paling tinggi, struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 21,93 persen. Sektor pertambangan dan penggalian menyusul di posisi kedua dengan 20,02 persen, kemudian perdagangan besar dan eceran 13,94 persen, serta konstruksi 8,51 persen.
Secara kumulatif pada Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi NTB mencapai 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp29,89 triliun.
Tantangan: Menjaga Momentum agar Manfaatnya Terasa Hingga Desa
Wahyudin mengingatkan ada pekerjaan rumah besar setelah angka pertumbuhan ini diraih. Pemerintah daerah perlu memperluas lapangan kerja yang berkualitas dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan masyarakat hingga ke perdesaan.
“Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga momentum tersebut. Tujuannya, agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, berkelanjutan, dan mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat,” tandasnya.