MATARAM — Perjalanan Khairunnisa menuju panggung utama MTQ Nasional ke-31 di Semarang menuntut pengorbanan yang jarang terlihat di balik lantunan ayat suci. Selama dua bulan sebelum lomba, qoriah yang akrab disapa Nisa ini menahan diri dari minuman es dan gorengan demi menjaga kualitas suara.
"Tentu ada tantangannya karena kita harus selalu menjaga kondisi ya, terutama kalau di tilawah itu kan tidak bisa makan es, jadi puasa es dan puasa gorengan selama 2 bulan. Itu lumayan sulit," kata Nisa saat ditemui di Mataram, Senin (21/9/2026).
Pembinaan 40 Hari di LPTQ NTB Berbuah Hasil
Sebelum terbang ke Semarang, Nisa mengikuti program pembinaan di Training Center Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) NTB selama dua minggu dalam dua tahap. Latihan tetap berjalan mandiri saat jeda, ditambah program TC online selama 10 hari dari rumah sebelum keberangkatan.
"Jadi, walaupun sudah pulang, kita tetap TC online selama 10 hari. Jadi benar-benar intens dan hasilnya jauh lebih maksimal dibanding sebelumnya," ungkap Nisa.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyebut lonjakan prestasi ini tidak lepas dari pembenahan sistem pembinaan LPTQ. Sebelumnya, TC hanya digelar singkat empat hari. Kini peserta digembleng intensif selama 40 hari di Mataram sebelum bertolak ke Semarang.
"Dahulu kan tahu-tau sudah lomba di tingkat kabupaten. Kalau zaman kita dahulu dari desa dan kecamatan sehingga talent yang tersembunyi ini kelihatan. Itu proses talent scouting-nya yang harus diperbaiki," ungkap Iqbal.
NTB Melonjak ke Peringkat 9 dari Posisi 23
Kontingen NTB menembus posisi sembilan besar nasional dengan torehan 34 poin, naik signifikan dari peringkat 23 pada MTQ Nasional 2022 di Kalimantan Timur. Iqbal menyebut capaian ini sebagai momentum kebangkitan NTB yang pernah disegani pada era 1980-an.
"Alhamdulillah sekarang kita sudah kembali lagi ke urutan 9 dan masuk 10 besar dengan 34 poin. Cita-cita kita dari awal ingin melihat prestasi MTQ kita kembali seperti masa-masa tahun 80-an, di mana kita jadi salah satu provinsi yang disegani," ujar Iqbal.
Menurut Iqbal, banyak qori hebat asal NTB justru membela daerah lain karena minimnya perhatian di masa lalu. Salah satunya Samsuri Firdaus, juara tilawah dewasa putra yang merupakan anak didik pelatih NTB, Ustaz Sahril, tetapi kemudian membela DKI Jakarta.
"Dia (Samsuri) juara di DKI, tetapi tetap membawa nama baik NTB. Tidak apa-apa dia tetap melakukan syiar walaupun ikut dari daerah lain," tegas Iqbal.
Bonus Setara Atlet dan Target 5 Besar
Pemprov NTB berjanji memberikan bonus setara atlet kepada para juara MTQ Nasional ke-31. Besaran nominal bonus akan diumumkan pada lain waktu, namun Iqbal memastikan jumlahnya sangat menjanjikan.
"Apresiasi bagi pejuang Al-Qur'an ini dipastikan setara dengan atlet cabang olahraga. Kami ingin memperlakukan anak-anak muda kita yang memiliki prestasi di bidang kajian Al-Qur'an ini mendapatkan penghargaan yang setara dengan prestasi di bidang lain. Artinya ini tidak lagi hanya atlet yang mendapat apresiasi," tegas Iqbal.
Untuk MTQ Nasional berikutnya, Iqbal mematok target NTB tidak turun dari peringkat sembilan dan berharap bisa menembus lima besar. Pemprov NTB juga mendeklarasikan komitmen menjadikan NTB sebagai Serambi Al-Qur'an.
"Kami sudah declare bahwa ke depan kalau Aceh itu Serambi Makkah, kami mau jadi Serambi Al-Qur'an," jelas Iqbal.
Bagi Nisa, gelar juara 1 bukan akhir perjuangan. Pada Oktober 2026, ia akan bertolak ke Malaysia sebagai wakil resmi Indonesia di MTQ Internasional Kuala Lumpur. Persiapan menuju panggung internasional tetap berjalan, termasuk pembinaan lanjutan dari Ketua LPTQ NTB.
"Jadi sekarang pun tetap harus menjaga kondisi dan melanjutkan latihan. Nanti ada pembinaan lagi dari Ketua LPTQ. Sebelum berangkat, mungkin dua hari kita akan diinapkan untuk pemantapan latihan baru kemudian berangkat ke tingkat internasional," jelas Nisa optimis.