MATARAM — Imbauan untuk menghemat air bersih disampaikan BMKG menyusul meluasnya area terdampak kekeringan meteorologis di NTB. Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Cakra Mahasurya, menegaskan bahwa kewaspadaan aktif warga sangat diperlukan untuk mengantisipasi krisis air bersih di tengah musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino.
BMKG secara resmi menetapkan status Waspada terhadap 10 kecamatan yang tersebar di enam kabupaten. Meski daftar spesifik kecamatan tidak dirincikan dalam pernyataan resmi, data pemantauan curah hujan pada dasarian I Juli 2026 menunjukkan seluruh wilayah NTB berada pada kategori rendah, dengan curah hujan berkisar antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian.
Curah hujan tertinggi hanya tercatat sebesar 5 milimeter per dasarian di Pos Hujan Lambu, Kabupaten Bima. Sebaliknya, rekor HTH terpanjang justru juga tercatat di Kabupaten Bima, tepatnya di Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo yang sudah mencapai 53 hari tanpa hujan.
Cakra Mahasurya mengungkapkan bahwa seluruh wilayah NTB saat ini telah resmi berada pada periode musim kemarau. Intensitas kemarau diperkuat oleh fenomena iklim global El Nino, di mana anomali suhu permukaan air laut di wilayah Nino3.4 menunjukkan indeks mencapai +1,69 dan diprediksi akan terus menguat mulai pertengahan tahun ini.
Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) masih terpantau netral dengan indeks -0,36. Namun, BMKG memproyeksikan indeks IOD berpeluang besar beralih menuju fase positif mulai Agustus hingga Desember 2026. Peralihan ini berpotensi semakin menekan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk NTB.
Sebagai langkah mitigasi di tingkat tapak, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan penyesuaian penggunaan air bersih domestik secara bijak. Selain krisis air, kondisi lingkungan yang sangat kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan, dan permukiman.
"Kami imbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan agar tidak terjadi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman," pungkas Cakra Mahasurya dalam pernyataannya, Minggu (12/7/2026).