NUSA TENGGARA BARAT — Pemesanan dibuka bersamaan dengan gelaran Chengdu Auto Show pekan ini. Ioniq V pertama kali meluncur dunia di Beijing Auto Show empat bulan lalu, hanya beberapa pekan setelah konsepnya diperkenalkan. Desainnya yang kaku dan bersudut tegas langsung mencuri perhatian—beberapa menyebutnya seperti Toyota Prius generasi terbaru versi low-polygon.
Hyundai membanderol Ioniq V dalam tiga level trim. Varian dasar dibanderol 119.900 yuan (sekitar Rp 283 juta), diikuti 129.900 yuan (Rp 307 juta) dan 139.900 yuan (Rp 331 juta) untuk tipe tertinggi.
Angka jarak tempuh memakai standar CLTC khas China yang cenderung longgar. Jika dikonversi ke standar EPA ala Amerika, hasilnya bakal lebih rendah. Meski begitu, Ioniq V dibangun di atas platform E-GMP dengan arsitektur 800V—fondasi yang sama dengan mobil-mobil pengisian tercepat Hyundai di pasar global.
Kabin Ioniq V bertumpu pada satu layar raksasa 27 inci yang diklaim Hyundai sebagai panel 4K—klaim yang diragukan karena resolusi sebenarnya tak mencapai standar 3840×2160. Sistem infotainment-nya memakai dua model kecerdasan buatan lokal: Baidu dan ByteDance.
Fitur unggulan lain termasuk head-up display bernama Cyber Eye dan sistem bantuan pengemudi yang dikembangkan bersama Momenta, pemasok ADAS yang memasok banyak merek di China. Dimensinya lebih besar dari Prius: panjang 4.900 mm, lebar 1.890 mm, dan tinggi 1.470 mm.
Ioniq V diproduksi di pabrik Beijing yang dioperasikan Hyundai sebagai usaha patungan dengan BAIC Motor. Hyundai menyadari China berada di garis depan mobilitas global dan menganggap masuknya ke pasar EV China akan membantu sukses di pasar internasional.
Sayangnya, pemesanan baru dibuka terbatas di China. Hyundai belum memberi kepastian kapan model ini menyusul ke pasar lain. Australia disebut-sebut sebagai kandidat kuat karena penjualan EV di sana sedang melonjak, dan Hyundai sudah menjual Elexio tahun ini. Eropa dan Kanada juga berpeluang, tapi Amerika Serikat kemungkinan besar absen karena kebijakan yang membatasi impor kendaraan buatan China.
Hyundai juga mengisyaratkan bakal ada versi EREV (extended range electric vehicle) di kemudian hari. Namun melihat tren penjualan EV yang naik dan kendaraan bermesin bakar yang justru turun di China, varian BEV murni diprediksi jadi pilihan paling laris.