SUMBAWA — Kehadiran Toko Inflasi "Basamula" di Pasar Seketeng menjadi instrumen baru bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pasar ketika harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, menegaskan bahwa toko ini tidak akan menjadi pesaing bagi pedagang yang sudah lama beraktivitas di pasar tersebut.
"Toko ini akan menjadi tempat kita melakukan operasi. Bukan untuk menjadi saingan toko-toko yang lain, tetapi menjaga agar harga tetap menjadi standar dan kita bisa mengontrol kondisi harga sehingga tidak ada kenaikan yang terlalu tinggi," ujar Bupati Jarot dalam sambutannya.
Pasar Seketeng Disiapkan Jadi Kawasan Perdagangan Lebih Representatif
Di sela-sela peresmian, Bupati Jarot mengungkapkan rencana besar pembenahan kawasan Pasar Seketeng. Sejumlah bagian pasar telah direnovasi, dan pemerintah kabupaten menyiapkan pengembangan kawasan perdagangan yang lebih luas di masa mendatang.
"Di sebelah Terminal Sumer Payung ada sekitar 10 hektare yang kita rencanakan untuk pasar yang lebih representatif. Sementara di sini kita arahkan menjadi kawasan yang lebih baik, termasuk rencana pengembangan Mall Sumbawa," ungkapnya.
Bupati Jarot juga menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Provinsi NTB terhadap Kabupaten Sumbawa. Ia mengakui masih banyak pekerjaan pembangunan yang perlu diselesaikan di tengah kondisi fiskal daerah yang terbatas.
Wagub: Inflasi di Satu Daerah Berdampak ke Daerah Lain
Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Damayanti Putri, menilai Pasar Seketeng merupakan salah satu pasar kebanggaan NTB karena kondisinya yang masih tertata dan terjaga. Kehadiran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sumbawa dinilai penting untuk memastikan kesiapan distributor dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang hari-hari besar.
"Tim hadir untuk memantau secara langsung kesiapan para distributor dalam melayani kebutuhan masyarakat. Ini penting untuk mengantisipasi apabila terjadi kelangkaan barang," ujar Wagub yang akrab disapa Umi Dinda itu.
Wagub menegaskan bahwa pengendalian inflasi merupakan tanggung jawab bersama. Fluktuasi harga di satu kabupaten dapat memberikan efek domino ke daerah lainnya, sehingga koordinasi dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat.
"Bila ada kabupaten yang terjadi inflasi, maka kabupaten lain juga mengintervensi untuk menekan angka tersebut. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama," tegasnya.
Pemantauan Rutin Jadi Kunci Antisipasi Kenaikan Harga
Berdasarkan rilis inflasi Juli, Sumbawa tidak memiliki komoditas yang secara langsung menjadi penyumbang utama inflasi. Meski demikian, Wagub mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar terus memperhatikan perkembangan harga melalui pemantauan rutin.
Pemerintah pusat dapat mendeteksi potensi ancaman inflasi berdasarkan data ketersediaan bahan pokok, meski kenaikan harga di daerah terlihat belum signifikan. Karena itu, kesiapan sejak dini menjadi kunci dalam menjaga daya beli masyarakat.
Bantuan Sosial Disalurkan kepada 30 Warga
Rangkaian acara peluncuran dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai tanda resmi beroperasinya Toko Inflasi "Basamula". Penyerahan bantuan sosial juga dilakukan kepada 30 orang penerima, dengan penyerahan simbolis kepada lima orang perwakilan.
Program ini diharapkan menjadi barometer dalam melihat perkembangan harga dan mengukur efektivitas pengendalian inflasi di Kabupaten Sumbawa. Kolaborasi antara Pemkab Sumbawa, Pemprov NTB, Bank Indonesia, Bulog, Pertamina, dan BPS diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat.