NUSA TENGGARA BARAT — Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah dibuka pada level Rp17.489 per dolar AS dan mengalami penurunan sebesar 89 poin pada pukul 9.45 WIB. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mencatat bahwa pelemahan ini mencerminkan sentimen pasar yang negatif, terutama terkait meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada harga minyak.
Pergerakan Mata Uang Regional dan Global
Berbagai mata uang di Asia juga mengalami pelemahan. Di antaranya:
- Yuan China: turun 0,01 persen
- Peso Filipina: melemah 0,50 persen
- Ringgit Malaysia: terdepresiasi 0,22 persen
- Dolar Singapura: turun 0,20 persen
- Yen Jepang: melemah 0,22 persen
- Won Korea Selatan: anjlok 1 persen
Sementara itu, dolar Hong Kong tercatat menguat 0,01 persen terhadap dolar AS. Mata uang utama negara maju juga mengalami penurunan, seperti euro yang turun 0,17 persen dan poundsterling Inggris yang melemah 0,18 persen.
Penyebab Tekanan pada Rupiah
Menurut Lukman, pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak memberikan kabar positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menambah tekanan pada rupiah. "Investor saat ini menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini, yang bisa memberikan petunjuk lebih lanjut tentang kondisi ekonomi domestik," ujarnya.
Outlook Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Dengan berbagai faktor eksternal dan domestik yang mempengaruhi, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar.
Fakta Singkat:
- Rupiah melemah ke Rp17.503 per dolar AS pada 12 Mei 2023.
- Pelemahan mencapai 0,52 persen dibandingkan sesi sebelumnya.
- Mayoritas mata uang Asia tertekan oleh penguatan dolar AS.