Pencarian

Pengawasan Laut NTB Diperketat, 30 Persen Terumbu Karang di Sekotong Ditemukan Mati

Selasa, 12 Mei 2026 • 15:33:52 WIB
Pengawasan Laut NTB Diperketat, 30 Persen Terumbu Karang di Sekotong Ditemukan Mati
Petugas Dinas Kelautan NTB melakukan patroli rutin untuk menjaga kawasan konservasi laut Sekotong.

MATARAM — Ancaman kerusakan ekosistem laut di Nusa Tenggara Barat kian nyata. Selain abrasi pantai yang menggerus pesisir, data terbaru menunjukkan kondisi memprihatinkan di kawasan konservasi perairan Gita Nada, Sekotong. Hasil survei Indonesian Blue Foundation (IBF) atau Yayasan Terumbu Indonesia Biru mengungkap, rata-rata lebih dari 30 persen terumbu karang di Gili Genting, Gili Nanggu, Taket Dalem, dan Gili Asahan sudah mati atau berupa rubble (pecahan karang).

Empat Titik Kritis di Lombok Barat

Temuan itu menjadi alarm bagi Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutan) NTB. Kepala Dislutan NTB, Muslim, langsung meminta IBF mengurus perizinan pemanfaatan kawasan konservasi sebelum melakukan intervensi. Ia menegaskan, lokasi yang direncanakan sebagai zona restorasi berada di dalam kawasan konservasi yang dikelola UPT BLUD BPSDKP Wilayah Lombok.

"Izin pemanfaatan kawasan konservasi kepada pengelola kawasan sangat penting dilakukan," ujar Muslim, Senin (11/5/2026).

Patroli Rutin dan Edukasi Nelayan

Pemerintah provinsi tidak tinggal diam. Kepala Balai Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Dislutan NTB, Abdul Wahab, menyatakan pihaknya menggelar patroli setiap pekan. Kegiatan ini menyasar aktivitas masyarakat di sekitar kawasan konservasi yang berpotensi merusak habitat biota laut, terutama terumbu karang.

“Kami di balai itu melakukan patroli, biasanya satu minggu sekali kita lakukan, untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kita yang berada di sekitar wilayah konservasi itu,” jelas Abdul Wahab.

Edukasi kepada masyarakat pesisir juga rutin digelar sebagai langkah mitigasi. Langkah ini dinilai krusial mengingat luas perairan laut NTB mencapai 29 ribu kilometer persegi dengan kekayaan hayati yang tinggi. Data forum ilmiah pengelolaan perikanan berkelanjutan (FIP2B) mencatat, di dalamnya terdapat 76.420 hektare ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi 700 spesies ikan dan 69 genus karang keras.

Bimtek untuk Boatman dan Tour Guide

Selain restorasi, IBF berkomitmen memberikan bimbingan teknis kepada para boatman dan tour guide di kawasan Sekotong. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku wisata dalam mengarahkan pengunjung ke titik aman tanpa merusak ekosistem. Muslim menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut dan berharap kegiatan restorasi karang dapat mendukung pariwisata bahari yang berkelanjutan.

Gili Tramena Jadi Sorotan

Kerusakan terumbu karang tidak hanya terjadi di Sekotong. Tahun lalu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB melaporkan kerusakan serupa di kawasan Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena) ke Jaksa Agung. Lembaga swadaya masyarakat itu menduga kerusakan dipicu aktivitas wisata yang tidak ramah lingkungan dan lemahnya pengawasan.

Pemerintah NTB kini membentuk 17 kawasan konservasi untuk melindungi potensi ekonomi dari sektor perikanan dan pariwisata. Namun, tanpa pengawasan ketat dan partisipasi aktif masyarakat, kekayaan bawah laut NTB terancam punah sebelum sempat dinikmati generasi berikutnya.

Bagikan
Sumber: suarantb.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks