MATARAM — Potensi energi bersih di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai lebih dari 13.000 MW, dengan tenaga surya mendominasi hingga 10.628 MW. Angka itu diungkap peneliti Bale Nara Indonesia, Abdani Khoir, Kamis (14/5/2026), sebagai modal besar menjadikan NTB lokus utama energi terbarukan di Indonesia Timur.
"NTB memiliki iradiasi matahari tertinggi di Indonesia, 4,8–5,1 kWh/m² per hari. Ini modal besar untuk pengembangan PLTS skala besar dan terapung," ujar Dani, sapaan akrabnya.
Bauran Energi Bersih NTB Lampaui Target Nasional
Data menunjukkan capaian bauran EBT NTB pada 2023 tercatat 22,43 persen, lebih tinggi dari target nasional yang sebesar 19 persen. Saat ini, lebih dari 20 lokasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah beroperasi, termasuk PLTS Lombok berkapasitas di atas 20 MW dan PLTS Sumbawa 26,8 MW.
Selain surya, potensi angin mencapai 2.605 MW, panas bumi 175 MW, serta energi hidro dan bioenergi yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. Pemerintah provinsi menargetkan penambahan kapasitas EBT sebesar 400 MW hingga 2034 melalui peta jalan yang tertuang dalam Pergub NTB Nomor 43 Tahun 2024.
77 Bendungan Dikaji untuk PLTS Terapung
Dani memaparkan, sebanyak 77 bendungan di NTB tengah dikaji untuk pengembangan PLTS terapung. Potensi panas bumi di wilayah Dompu sebesar 70 MW dan Sembalun 69 MW juga masuk daftar prioritas. Pemerintah daerah membuka peluang investasi dengan skema insentif dan kemudahan perizinan.
"Pengembangan EBT bukan hanya soal energi bersih. Ini tentang kemandirian energi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi daerah," bebernya.
Integrasi Sistem Kelistrikan Lombok-Sumbawa Jadi Kunci
NTB kini menjadi salah satu provinsi percontohan transisi energi di Indonesia. Integrasi sistem kelistrikan antara Lombok dan Sumbawa menjadi fokus utama untuk mencapai target 100 persen energi terbarukan di seluruh sektor pada 2050. "Melalui data-data ini, sangatlah logis nantinya NTB menjadi lokus utama energi terbarukan di Indonesia bagian timur," ungkap Dani.
Catatan soal Industri dan Pendanaan
Meski potensi melimpah, Dani mencatat masih minimnya sisi industri pada sektor energi baru terbarukan. Langkah terdekat yang harus diambil, menurut dia, adalah mewujudkan master plan energi yang telah dimiliki Pemerintah Provinsi melalui Dinas ESDM.
"Jangan sampai master plan yang telah susah payah dibuat oleh Dinas ESDM hanya dijadikan kumpulan kertas yang dipajang saja," tegasnya.
Soal pendanaan, Dani menjelaskan pemerintah pusat telah menyediakan instrumen investasi yang jelas, baik lokal, nasional, maupun internasional. "Kalau masalahnya di investasi, Bank Indonesia (BI) membuka jalan dengan luas untuk EBT ini, tinggal saling bertemu saja antara Pemda dengan BI," jelasnya.