MATARAM — Ratusan petugas akan menyambangi langsung lokasi usaha warga Kota Mataram mulai pertengahan tahun ini. BPS Kota Mataram menyiapkan 306 petugas lapangan untuk memastikan seluruh aktivitas ekonomi, termasuk pedagang kaki lima (PKL) yang tidak memiliki tempat permanen, tercatat secara akurat.
Metode Door-to-Door dan Digital untuk Data Usaha
Pendataan akan berlangsung selama dua setengah bulan, dimulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Petugas menggunakan metode door-to-door untuk menjangkau seluruh pelaku usaha, termasuk yang sifatnya bongkar-pasang.
“Untuk pedagang yang sifatnya sementara atau bongkar-pasang seperti PKL, pendataan dilakukan melalui rumah tangga pelaku usahanya,” ujar Kepala BPS Kota Mataram, M. Reza Nugraha Kusumowinoto, Senin lalu.
Bagi perusahaan besar, BPS menyiapkan sistem pendataan berbasis web melalui metode Computer Assisted Web Interview (CAWI). Metode ini memungkinkan pelaku usaha besar memberikan data secara mandiri dan lebih efisien.
Hasil Sensus Jadi Acuan Kebijakan Pembangunan Daerah
Pemerintah Kota Mataram menaruh harapan besar pada hasil sensus ini. Pasalnya, Kota Mataram saat ini mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan angka 5,43 persen pada tahun 2025.
Asisten II Setda Kota Mataram, Miftahurrahman, menyatakan data sensus sangat penting untuk melihat kondisi riil masyarakat. Hasil pendataan akan menjadi dasar dalam menyusun program strategis, mulai dari pengembangan UMKM, investasi daerah, hingga penataan perdagangan.
“Kalau data yang dimiliki akurat, maka kebijakan pemerintah juga akan lebih tepat sasaran,” katanya.
Partisipasi Warga Kunci Keberhasilan Sensus
BPS Kota Mataram dan Pemkot berharap seluruh pelaku usaha bersedia memberikan data yang benar dan lengkap kepada petugas. Partisipasi masyarakat dinilai sangat menentukan arah pembangunan ekonomi daerah ke depan.
“Kami ingin mendapatkan gambaran terbaru struktur ekonomi Kota Mataram. Karena itu seluruh pelaku usaha akan menjadi sasaran pendataan,” ujar Reza.