Pencarian

NTB Kehilangan 110.000 Hektare Tutupan Pohon dalam 25 Tahun, Tiga Kabupaten Jadi Penyumbang Terbesar

Selasa, 09 Juni 2026 • 20:24:01 WIB
NTB Kehilangan 110.000 Hektare Tutupan Pohon dalam 25 Tahun, Tiga Kabupaten Jadi Penyumbang Terbesar
Lereng perbukitan di Kabupaten Bima tampak gundul akibat hilangnya tutupan pohon selama 25 tahun terakhir.

MATARAM — Rekaman video dari atas pesawat yang diunggah akun Instagram @fahroerizki pada akhir Mei 2026 menjadi cermin ironi lingkungan di NTB. Dalam durasi 1 menit 30 detik, terlihat hamparan lahan tanpa vegetasi di Kecamatan Soromandi dan Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Lereng perbukitan yang seharusnya hijau berubah menjadi petak-petak ladang pertanian gundul, hanya menyisakan pepohonan di sepanjang aliran sungai.

El Nino Memperparah Kerusakan Hutan

Global Forest Watch mencatat luas tutupan pohon yang hilang di NTB mencapai 1.100 kilometer persegi, melepaskan emisi karbon dioksida sebanyak 61 metrik ton. Kabupaten Sumbawa kehilangan 36.000 hektare, Dompu 26.000 hektare, dan Bima 25.000 hektare. Angka kehilangan tertinggi terjadi setiap periode El Nino—7.100 hektare pada 2014, 8.700 hektare pada 2019, dan 9.900 hektare pada 2023. Fenomena iklim global itu memperpanjang musim kering, membuat vegetasi kering dan rentan terbakar.

Petani Garda Terdepan Pemulihan Lingkungan

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB pada 2025 meluncurkan gerakan Satu Desa Satu Demplot Agroforestri. Tujuannya mengendalikan invasi monokultur jagung di kawasan hutan Pulau Sumbawa. Dalam pola agroforestri, pohon buah produktif seperti alpukat, kemiri, petai, lengkeng, nangka, dan durian ditanam bersama tanaman pangan dalam satu bentang ladang.

Namun, gerakan itu dinilai baru sebatas agenda seremonial. Penanaman hanya dilakukan saat peringatan hari besar nasional atau penyaluran dana tanggung jawab sosial perusahaan. Tidak ada pemeliharaan bibit dan jaminan pasar saat panen tiba.

Tradisi Ladang Berpindah Jadi Kendala

Di Kabupaten Dompu dan Bima, petani tradisional masih menganut praktik ladang berpindah setiap empat sampai lima tahun. Mereka beralih ladang untuk menghindari serangan monyet dan babi hutan. Namun, kebiasaan itu justru mendorong perluasan lahan untuk menambah hasil pertanian.

Pemerintah daerah didorong memberikan penghargaan kepada petani yang setia menjaga tutupan pohon dan merawat sumber air. Setiap bibit pohon yang ditanam hari ini merupakan investasi terbaik agar anak-cucu tidak menanggung beban ekologis akibat ekspansi ladang yang mengubah bentang alam.

Bagikan
Sumber: antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks