Pencarian

Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Landa NTB di Tengah Musim Kemarau, 4 Wilayah Terdampak

Jumat, 12 Juni 2026 • 20:04:31 WIB
Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Landa NTB di Tengah Musim Kemarau, 4 Wilayah Terdampak
Hujan lebat disertai angin kencang melanda empat wilayah di NTB di tengah musim kemarau.

MATARAM — Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto mengungkapkan, kelembapan udara pada lapisan menengah terpantau cukup tinggi, berkisar antara 70 hingga 90 persen. Kondisi ini mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah NTB.

Faktor Pemicu Hujan di Tengah Kemarau

Ari menjelaskan, terdapat sirkulasi siklonik di sekitar Kalimantan bagian selatan yang membentuk daerah pertemuan massa udara atau konvergensi. Fenomena itu turut meningkatkan peluang pembentukan awan-awan hujan.

"Bahkan, aktivitas gelombang atmosfer Madden–Julian Oscillation (MJO) dan Equatorial Rossby (ER) juga terpantau aktif di wilayah NTB sejak 11 Juni 2026," papar Ari.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang menyebabkan hujan tetap turun meskipun NTB tengah berada di puncak musim kemarau. Menurut BMKG, musim kemarau tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya, melainkan frekuensi dan jumlah curah hujan berkurang dibandingkan musim hujan.

Empat Wilayah Waspada Hujan Lebat

BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi dalam satu hingga dua hari ke depan. Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, dan Bima.

"Kondisi itu mendukung peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang," ujar Ari.

Masyarakat di empat wilayah tersebut diminta waspada, terutama pada siang hingga malam hari saat potensi hujan meningkat.

Imbauan BMKG ke Warga

Ari meminta masyarakat tidak perlu heran apabila hujan masih turun meskipun NTB saat ini sedang memasuki periode musim kemarau. "Dalam kondisi tertentu, pengaruh dinamika atmosfer seperti aktivitas MJO, gelombang Equatorial Rossby, tingginya kelembapan udara, serta adanya daerah konvergensi dan perlambatan angin masih dapat memicu pertumbuhan awan konvektif yang menghasilkan hujan," pungkasnya.

BMKG mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi genangan air, pohon tumbang, dan sambaran petir yang dapat menyertai hujan lebat. Informasi cuaca terkini dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG.

Bagikan
Sumber: koran-jakarta.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks