MALANG — Kepala OJK NTB, Rudy Sulistyo, mengajak belasan jurnalis ekonomi dan bisnis ke Malang, Kamis (18/6/2026), untuk melihat langsung ekosistem bisnis KAN Jabung. Menurut Rudy, koperasi yang berdiri sejak 1979 itu menjadi contoh ideal bagi NTB yang dikenal sebagai salah satu sentra sapi terbesar di Indonesia.
“NTB dikenal sebagai bumi sejuta sapi. Puluhan ribu sapi dikirim ke luar daerah setiap tahun, tetapi hingga saat ini belum ada koperasi peternakan besar seperti KAN Jabung,” ujar Rudy dalam kunjungan tersebut.
Mengapa KAN Jabung Jadi Referensi?
KAN Jabung tidak sekadar menghimpun peternak. Koperasi ini membangun pabrik pakan ternak, unit pengolahan susu, hingga pabrik gula tebu berkapasitas 100 ton per hari. Total aset yang dikelola mencapai Rp269 miliar dengan perputaran bisnis sekitar Rp400 miliar per tahun.
Presiden Direktur KAN Jabung, Eva Marliyanti, menjelaskan bahwa koperasi mengelola bisnis dari penyediaan sarana produksi hingga pemasaran produk jadi. “Kami membangun bisnis dari hulu sampai hilir. Ada unit penyediaan sarana produksi pertanian, peternakan, pengolahan susu, pengolahan tebu, hingga pemasaran produk jadi,” katanya.
Saat ini, populasi sapi yang dikelola anggota mencapai sekitar 7.900 ekor. Jumlah itu menurun dibandingkan sebelum wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat mencapai 11.500 ekor. Total anggota dan mitra koperasi mencapai 55.927 orang.
Potensi Serapan Jagung dari NTB
Menariknya, KAN Jabung sudah menjalin rantai pasok dengan petani di NTB. Sekitar 15 persen bahan baku jagung dan turunannya untuk pakan ternak berasal dari NTB, dengan volume mencapai 300 ton per bulan. Rudy melihat celah ini sebagai peluang besar bagi NTB untuk memperkuat posisi tawar petani dan peternak lokal.
“OJK kini memiliki tugas tambahan dalam pengembangan ekonomi daerah. Harapannya, komoditas unggulan NTB seperti kakao, udang, dan tuna juga bisa mendapatkan nilai tambah melalui penguatan kelembagaan koperasi,” ujar Rudy.
Tantangan Regenerasi Peternak
Meski sukses, KAN Jabung mengakui masih menghadapi kendala klasik: partisipasi anggota dan regenerasi petani-peternak. Banyak peternak yang memiliki usaha namun belum tertarik bergabung dengan koperasi. “Tantangan terbesar saat ini adalah partisipasi anggota dan keberlanjutan generasi. Banyak peternak yang memiliki usaha, tetapi belum tertarik bergabung dengan koperasi,” kata Eva.
Program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes MP) yang tengah digalakkan pemerintah pusat dinilai bisa menjadi momentum. Rudy menegaskan, pengalaman KAN Jabung bisa menjadi cetak biru bagi pengembangan koperasi serupa di NTB, terutama di daerah sentra sapi seperti Sumbawa, Dompu, dan Bima.