SELONG — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kian serius menjadikan kebudayaan sebagai haluan pembangunan daerah. Langkah konkret ini kembali ditegaskan dalam Jambore Nasional V Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) yang digelar di Selong, Kabupaten Lombok Timur.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhammad Ihwan, yang hadir mewakili Gubernur NTB, menegaskan bahwa pemuda adat bukan hanya pewaris tradisi, melainkan juga aktor utama perubahan. “Mereka tidak hanya mewarisi rumah adat, bahasa daerah, atau tradisi leluhur, tetapi juga mewarisi cara pandang terhadap kehidupan yang menjunjung tinggi gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap alam,” ujarnya dalam forum nasional tersebut.
Masyarakat Adat: Pelopor Pembangunan Berkelanjutan Sejak Lama
Menurut Ihwan, dunia kini ramai membicarakan pembangunan berkelanjutan, namun masyarakat adat di NTB telah mempraktikkannya jauh sebelum konsep itu populer. Nilai-nilai keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang dipegang teguh masyarakat adat dinilai relevan untuk menjawab tantangan global saat ini, termasuk perubahan iklim.
“Wilayah adat tidak bisa dipandang semata sebagai ruang geografis. Itu adalah ruang hidup yang menyimpan identitas, sejarah, dan pengetahuan tradisional. Menjaga wilayah adat berarti menjaga masa depan generasi berikutnya,” tegas Ihwan.
12 Objek Pemajuan Kebudayaan Jadi Fondasi Daerah
Langkah Pemprov NTB ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Di tingkat daerah, NTB terus mengembangkan 12 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang menjadi fondasi kebijakan. Objek tersebut mencakup adat istiadat, tradisi lisan, manuskrip, ritus, hingga pengetahuan tradisional yang hidup di masyarakat Sasak, Samawa, Mbojo, dan Dompu.
Kebudayaan tidak lagi dipandang sekadar pelestarian benda mati. Pemprov NTB menggarisbawahi bahwa kebudayaan adalah ekosistem hidup yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi budaya, industri kreatif berbasis tradisi, dan pariwisata berkelanjutan.
Kunjungan ke Dusun Adat Limbungan: Warisan di Lereng Rinjani
Usai menghadiri jambore, Ihwan melanjutkan kunjungan kerja ke Dusun Adat Limbungan Timur dan Limbungan Barat di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Terletak di lereng selatan Gunung Rinjani, kawasan ini masih mempertahankan tata ruang kampung tradisional masyarakat Sasak secara utuh.
Menurut para tokoh adat setempat, kawasan ini bermula dari hutan yang dibuka oleh leluhur hingga menjadi permukiman yang kemudian terbagi menjadi dua dusun. Selain menyimpan tradisi, Limbungan juga memiliki jejak sejarah perjuangan melalui Peristiwa Siat Limbungan, sebuah perlawanan rakyat terhadap kolonialisme Belanda yang dipimpin Patih Darwas.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Pemprov NTB memperkuat perlindungan kawasan adat sebagai pusat pelestarian budaya sekaligus ruang pembelajaran bagi generasi muda. Dengan semangat ini, NTB ingin memastikan bahwa identitas budaya tetap menjadi fondasi kokoh di tengah arus modernisasi.