NUSA TENGGARA BARAT — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memaparkan capaian program desa wisata dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (17/6). Ia menyebut strategi intervensi bertahap sesuai tingkat perkembangan desa menjadi kunci pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Program pengembangan desa wisata dijalankan melalui strategi intervensi yang terarah dan bertahap sesuai tingkat perkembangan masing-masing desa wisata agar dapat tumbuh secara berkelanjutan hingga mencapai kemandirian,” kata Widiyanti.
Kenaikan Jumlah Desa dan Kunjungan Wisatawan
Dari sisi cakupan, jumlah desa wisata yang terdaftar di JADESTA bertambah 1,85 persen—dari 6.148 desa pada 2025 menjadi 6.262 desa pada 2026. Pertumbuhan ini, menurut Widiyanti, menunjukkan perluasan partisipasi desa dalam ekosistem pariwisata nasional.
Data kunjungan ke 50 desa wisata ADWI 2024 juga mencatat tren positif. Total kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara meningkat 14,93 persen dari 2023 ke 2024, lalu melonjak 44,81 persen pada 2025. Angka kumulatif mencapai lebih dari 2,3 juta kunjungan dan perjalanan pada tahun lalu.
Peningkatan Pendapatan Masyarakat Setempat
Lonjakan aktivitas wisata itu berdampak langsung pada ekonomi warga. Pendapatan sektor pariwisata di 50 desa tersebut naik dari Rp38,48 miliar pada 2023 menjadi Rp46,05 miliar pada 2024, lalu kembali meningkat ke Rp59,60 miliar pada 2025.
Widiyanti menekankan bahwa kenaikan anggaran untuk program ini bukan sekadar kebutuhan kelembagaan, melainkan investasi untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di kawasan. “Masukan dari Komisi VII menjadi bagian penting bagi kami dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran, berimbang, dan berdampak nyata,” ujarnya menutup rapat.
Ia juga mengapresiasi sinergi dengan DPR RI, seraya berharap kolaborasi itu terus diperkuat demi pariwisata Indonesia yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing.