Di balik pesona Pantai Pink dan hijau bukit Gili, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Pulau Lombok dan Sumbawa bukan cuma soal pasir putih dan ombak. Di sini, ada sisa-sisa kerajaan, peninggalan kolonial Belanda, serta tradisi yang terus hidup. Tapi tak banyak yang tahu jalan menuju lokasi-lokasi ini atau cerita di balik temboknya yang mulai lapuk.
Pernah suatu siang, saya duduk di serambi sebuah bangunan tua di Kota Tua Ampenan. Angin laut bercampur aroma kopi hitam. Seorang penjaga tua bercerita tentang kapal-kapal dagang yang dulu merapat, membawa rempah dan cerita dari Jawa, Makassar, hingga Tiongkok. Dari pengalaman itulah saya tahu: sejarah NTB tak bisa dipahami hanya dari buku. Harus didatangi langsung. Berikut lima tempat yang menyimpan cerita itu.
1. Istana Bima (Museum Asi Mbojo) — Sisa Kerajaan di Sumbawa Timur
Di jantung Kota Bima, berdiri Istana Asi Mbojo. Bangunan ini bekas pusat Kesultanan Bima yang berkuasa sejak abad ke-17. Arsitekturnya perpaduan tradisional Bima dan Eropa — dinding tebal, jendela tinggi, dan atap limas. Di dalamnya, tersimpan singgasana sultan, keris pusaka, hingga naskah kuno lontar.
Pengunjung bisa melihat langsung koleksi senjata tradisional dan mahkota kesultanan. Lokasinya di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Sarae, Kecamatan Raba. Waktu terbaik berkunjung pagi hari, sebelum terik matahari Sumbawa datang. Cek jam operasional terbaru lewat akun media sosial museum atau hubungi Dinas Pariwisata Kota Bima.
2. Kota Tua Ampenan — Pelabuhan Tua di Lombok Barat
Ampenan adalah pelabuhan utama Lombok pada abad ke-19 hingga awal 1900-an. Kini, kawasan tuanya menyisakan deretan toko dan gudang milik pedagang Tionghoa, Arab, dan Belanda. Jalan-jalan sempit di Kelurahan Ampenan Tengah dan Banjar masih mempertahankan fasad asli: pintu kayu ukir, jendela krepyak, dan tembok bata ekspos.
Yang menarik, di sini ada Masjid Islamic Center dan Klenteng Ban Hing Kiong yang usianya lebih dari satu abad — keduanya berdiri berdampingan. Tak ada tiket masuk khusus, cukup biaya parkir. Datanglah sore hari, saat cahaya matahari jatuh miring di gang-gang tua. Tapi ingat, sebagian bangunan masih dihuni dan tak semuanya bisa dimasuki.
3. Benteng Pendem — Peninggalan Kolonial di Cakranegara
Benteng Pendem terletak di Kelurahan Cakranegara Selatan, Kota Mataram. Namanya berarti "benteng yang terpendam" — karena dulu terkubur tanah dan baru ditemukan kembali pada 1990-an. Dibangun Belanda pada 1840 sebagai markas pertahanan, benteng ini punya lorong bawah tanah, ruang tahanan, dan lubang angin di dinding setebal satu meter.
Saya pernah masuk ke lorong utamanya. Udara di dalam lembap dan gelap, hanya diterangi celah kecil di atas. Di sini pula konon para pejuang Lombok ditahan setelah Perang Lombok (1894). Lokasinya tak jauh dari Taman Mayura dan Pura Meru — tiga destinasi ini bisa dijadikan satu rute jalan kaki. Harga tiket masuk bervariasi, cek langsung di loket.
4. Makam Loang Baloq — Jejak Penyebar Islam di Lombok
Makam Loang Baloq berada di pesisir barat Mataram, tepatnya di Kelurahan Tanjung Karang. Tempat ini adalah kompleks pemakaman para ulama penyebar Islam di Lombok, termasuk Tuan Guru Haji Umar. Dari atas bukit makam, pengunjung bisa melihat Selat Lombok dan garis pantai Senggigi di kejauhan.
Yang membuat tempat ini unik: makam berada di atas tebing karang, dengan tangga batu yang curam. Banyak peziarah datang, terutama pada hari Kamis malam atau Jumat pagi. Tak ada tiket masuk, hanya parkir. Tapi hormati aturan setempat — pengunjung perempuan biasanya diminta mengenakan kain penutup kepala.
5. Taman Mayura — Taman Kerajaan Lombok di Tengah Kota
Taman Mayura di Cakranegara adalah bekas taman kerajaan Lombok (Kerajaan Selaparang) yang dibangun pada 1744. Di tengahnya ada kolam besar dengan bale kambang (paviliun terapung). Dulu, tempat ini dipakai untuk sidang kerajaan dan upacara adat. Kini, taman ini jadi ruang publik yang teduh, sering dipakai warga untuk bersantai atau berolahraga pagi.
Bangunan utama di sini masih asli, meski beberapa bagian dipugar setelah gempa 2018. Di sisi barat taman, ada Pura Mayura yang masih aktif digunakan untuk upacara keagamaan Hindu. Tiket masuknya murah, cek harga terbaru di lokasi. Waktu paling sejuk adalah pagi hari pukul 07.00-09.00, sebelum suara kendaraan mulai ramai.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berkunjung ke Situs Sejarah NTB
Banyak situs sejarah di NTB tak punya papan informasi yang jelas. Sebelum datang, riset dulu lewat Google Maps atau grup Facebook komunitas sejarah lokal. Sebagian lokasi juga tak punya jam buka tetap — terutama makam dan situs di kampung. Lebih baik datang pagi hari dan tanya ke warga sekitar.
Jangan lupa bawa air minum sendiri, karena di beberapa tempat seperti Benteng Pendem dan Makam Loang Baloq, penjual minuman jarang. Dan yang paling penting: jangan menyentuh atau mengambil benda apa pun dari situs. Beberapa lokasi masih dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah situs sejarah di NTB ramah untuk anak-anak?
Taman Mayura dan Kota Tua Ampenan cukup ramah anak. Benteng Pendem dan Makam Loang Baloq punya medan tangga dan lorong yang kurang cocok untuk balita.
Berapa biaya masuk ke tempat-tempat ini?
Harga bervariasi dan bisa berubah. Sebaiknya cek langsung ke lokasi atau tanya akun media sosial Dinas Pariwisata NTB.
Kapan waktu terbaik berkunjung ke NTB untuk wisata sejarah?
Mei hingga Oktober — musim kemarau. Jalan menuju beberapa situs seperti di Sumbawa bisa licin dan sulit dilalui saat hujan.
Apakah ada pemandu wisata di lokasi?
Di Istana Bima dan Benteng Pendem kadang ada pemandu sukarela. Di tempat lain, biasanya tidak. Bisa minta tolong warga setempat atau bergabung dengan tur komunitas sejarah.
Bisakah saya mengambil foto di dalam situs?
Boleh, kecuali di ruang tertentu yang dipajang benda pusaka. Tanya izin dulu ke penjaga atau pengelola.
Sejarah NTB bukan hanya angka tahun dan nama raja. Ia ada di dinding yang retak, di lorong yang gelap, dan di cerita para penjaga yang setia. Datanglah dengan rasa ingin tahu, bukan sekadar untuk foto latar Instagram. Karena dari situlah kita belajar: masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk ditemukan lagi.