MATARAM — Profesor Bambang Purwanto menegaskan bahwa ancaman terbesar terhadap warisan budaya bukanlah kerusakan fisik benda, melainkan terputusnya rantai produksi. Jika para pembuat lontar, keris, dan perhiasan tradisional berhenti bekerja karena tidak ada dukungan, maka pengetahuan dan keterampilan itu akan punah.
“Selama para pembuat benda-benda bersejarah masih ada, tidak akan ada masalah. Karena itu, negara harus hadir untuk menjaga keberadaan para pembuat lontar, keris, perhiasan dan lainnya,” ujarnya dalam diskusi yang digelar di Mataram, Selasa (14/7/2026).
Negara Tak Boleh Lepas Tangan Seperti Era Kerajaan
Bambang Purwanto mengingatkan bahwa secara historis, intervensi negara terhadap para perajin bukanlah hal baru. Pada masa kerajaan di Nusantara, para pande keris dan pembuat benda pusaka mendapat fasilitas dan perlindungan penuh dari penguasa.
“Dulu, negara (kerajaan-red) memberikan fasilitas kepada para pande (pembuat) keris, lontar, perhiasan dan lainnya,” katanya. Ia menilai, peran itu kini harus diambil alih oleh pemerintah daerah dan pusat agar tradisi ini tidak mati.
Fenomena Jual Beli Benda Pusaka: Antara Komoditas dan Warisan
Di tengah desakan agar negara hadir, Bambang Purwanto juga menyoroti maraknya praktik jual beli benda-benda peninggalan masa lalu. Ia mengakui bahwa praktik ini secara langsung mengurangi jumlah koleksi benda bersejarah yang ada di masyarakat.
Menurutnya, akar masalahnya terletak pada cara pandang masyarakat terhadap benda pusaka. Banyak yang melihatnya sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi, bukan sebagai warisan budaya yang harus dijaga keutuhannya lintas generasi.
“Bila masyarakat menilai benda peninggalan masa lalu sebagai peninggalan budaya, maka benda peninggalan sejarah akan tetap terjaga,” ujar Bambang Purwanto. Ia optimistis perubahan persepsi ini bisa terjadi jika pemerintah gencar melakukan edukasi dan memberikan insentif kepada para perajin.
Apa yang Bisa Dilakukan Pemprov NTB?
Desakan dari akademisi UGM ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kehadiran negara yang dimaksud bisa berupa pemberian bantuan alat produksi, pelatihan regenerasi perajin muda, hingga menciptakan pasar khusus untuk produk kerajinan tradisional Lombok.
Tanpa intervensi konkret, dikhawatirkan para pande keris dan pembuat lontar akan beralih profesi karena tidak mampu bersaing dengan industri modern. Akibatnya, Lombok tidak hanya kehilangan benda budayanya, tetapi juga para empu yang mewariskan ilmu. ***