KOTA BIMA — Upaya menekan angka stunting di Kota Bima tidak hanya bertumpu pada intervensi medis. Dari sisi hulu, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) mengerahkan seluruh penyuluh dan kader untuk mendatangi langsung rumah-rumah warga yang masuk kategori Keluarga Berisiko Stunting (KBS).
Berdasarkan data pemutakhiran, total ada 4.891 keluarga di Kota Bima yang masuk kategori tersebut. Mereka menjadi sasaran pendataan dan edukasi pencegahan, bukan penanganan kuratif.
Porsi DPPKB Hanya 30 Persen, Sisanya Ranah Medis
Kepala DPPKB Kota Bima, Ichwanul Muslimin, mengakui peran instansinya dalam penanganan stunting terbatas pada aspek pencegahan. Porsi terbesar, sekitar 70 persen, berada di ranah medis Dinas Kesehatan.
"Stunting, urusan kami itu sebenarnya 30 persen. Pendekatan yang kami lakukan hanya komunikasi, informasi, dan edukasi," ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Petugas Visit dari Rumah ke Rumah, Bukan Sekadar Survei
Untuk menjalankan fungsi edukasi tersebut, DPPKB mengandalkan Penyuluh Keluarga Berencana (KB) dan kader di tingkat masyarakat. Mereka ditugaskan aktif mendatangi warga secara langsung.
"Mereka memang visit dari rumah ke rumah. Tidak by survey, mereka dari rumah ke rumah," tegas Ichwanul.
Kendala di Lapangan: Penolakan Warga dan Teknik Memandu
Meski berjalan, pelaksanaan penyuluhan kerap menemui kendala sosial. Beberapa warga masih menolak atau memiliki pemahaman kurang tepat terkait program pencegahan stunting dan keluarga berencana.
Evaluasi ini mendorong dinas memprioritaskan peningkatan keterampilan komunikasi para kader. Ichwanul menilai efektivitas penyuluhan sangat bergantung pada pengetahuan, sikap, dan keterampilan teknis petugas saat berinteraksi dengan warga.
"Kalau kita bilang banyak tidak, cuma kan kadang-kadang kalau saya turun ke lapangan ada aja keluhan dari kader. Ternyata teknik di dalam memandu tuh kadang-kadang menjadi kunci," ungkapnya.
Strategi: Senyum, Sapa, Salam, dan Teknik Mengajak
Pembekalan materi serta teknik memandu penyuluhan terus dilakukan secara intensif. Para kader dibekali cara mendekati warga agar program bisa diterima tanpa menimbulkan resistensi.
"Bagaimana menyiapkan mereka ini menjadi penyuluh yang berkualitas itu tentu kami upgrade terus, kami kasih pelatihan. Ada cara-cara kita agar bisa masyarakat terima, misalnya di aspek pendasaran seperti senyum, sapa, salam, hingga penggunaan media bantu dan teknik mengajak, bukan memaksa," pungkasnya.