LOMBOK TENGAH — Sebanyak 75 rumah adat Sasak beserta sejumlah fasilitas pendukung di Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut mulai direkonstruksi. Pembangunan ditandai dengan prosesi adat Nyemulak atau penanaman tiang perdana yang digelar warga pada Kamis ini.
LOMBOK TENGAH — Ratusan warga Dusun Sade menggelar prosesi adat Nyemulak sebagai penanda dimulainya pembangunan kembali rumah adat dan Masjid Sade yang ludes dilalap api. Total ada 75 rumah adat, 8 berugak, 6 sekenam, serta satu masjid yang akan dibangun dari nol di kawasan wisata budaya kebanggaan Lombok Tengah tersebut.
Selain bangunan utama, rekonstruksi juga menyasar sejumlah fasilitas penunjang aktivitas warga. Dua toilet umum dan 69 artshop yang ikut terbakar turut masuk dalam daftar prioritas pembangunan.
Skala Kerusakan dan Target Rekonstruksi
Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade, Lalu M Faozal, mengatakan seluruh proses pembangunan secara resmi dimulai hari ini. Meski demikian, pengerjaan tidak bisa dilakukan serentak untuk seluruh bangunan.
"Seluruh proses pembangunan dimulai hari ini, namun tidak bisa diselesaikan dengan bersamaan, sehingga dibangun sesuai dengan perencanaan rekonstruksi yang lebih aman," ujarnya.
Bulan Maulid Jadi Penanda Pembangunan
Pemilihan waktu memulai pembangunan bukan tanpa alasan. Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menyebut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momen paling tepat untuk mengawali prosesi sakral ini.
"Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di Kampung Adat Sade ini dimulai hari ini," kata Bupati Lalu Pathul Bahri saat menghadiri acara Nyemulak.
Orang nomor satu di Lombok Tengah itu menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang telah menyalurkan bantuan. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi energi bagi warga untuk pulih dan kembali menjalankan aktivitas seperti sedia kala.
Aturan Ketat: Satgas dan Rekening Bersama
Di tengah besarnya arus bantuan yang masuk, Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu M Iqbal menekankan pentingnya tata kelola keuangan yang transparan. Ia meminta pembentukan satgas khusus dan rekening bersama untuk mengelola seluruh donasi.
"Bantuan yang masuk dikumpulkan," tegas Gubernur Lalu M Iqbal.
Gubernur mengingatkan agar proses pembangunan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Ia menilai proyek ini merupakan langkah perdana pelestarian budaya di NTB yang harus menjaga keaslian arsitektur dan filosofi rumah adat Sasak.
Kawasan Ditutup, Museum Semi Permanen Dikebut
Selama proses rekonstruksi berlangsung, kawasan Kampung Sade ditutup untuk wisatawan. Untuk memastikan roda ekonomi warga tetap berputar, Gubernur meminta pembangunan museum semi permanen dipercepat.
"Wisatawan yang datang bisa melihat bentuk Sade ini, karena proses rekonstruksi dimulai kawasan ini ditutup," jelasnya.
Gubernur menegaskan esensi pembangunan bukan hanya sekadar mendirikan bangunan fisik, melainkan menghadirkan kembali ruang yang bercerita tentang budaya dan ritual masyarakat Sasak. "Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Ini proyek pertama pelestarian budaya di NTB,” ucap Lalu M Iqbal.