Pencarian

Gunung Ciremai Kini Hanya Punya 4 Jenis Primata, Owa Jawa Hilang Sejak 2008

Minggu, 25 Oktober 2026 • 14:33:01 WIB
Gunung Ciremai Kini Hanya Punya 4 Jenis Primata, Owa Jawa Hilang Sejak 2008
Gunung Ciremai kini hanya menyisakan empat jenis primata setelah owa Jawa tidak lagi terlihat sejak 2008.

NUSA TENGGARA BARAT — Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kini hanya menyisakan empat jenis primata setelah owa Jawa tak lagi terlihat sejak 2008. Surili, lutung Jawa, monyet ekor panjang, dan kukang masih tercatat berkembang biak di kawasan tersebut. Hilangnya owa Jawa membuat Gunung Ciremai kehilangan satu spesies endemik yang dulu menjadi objek penelitian primata.

Jejak Owa Jawa yang Hilang dari Blok Apuy

Menurut Sigit, owa Jawa terakhir terlihat di Blok Apuy pada 2003. Survei di penghujung 2007 hingga 2008 memastikan primata itu sudah tidak tampak lagi di lokasi tersebut.

Dugaan sementara, area yang menjadi tempat hidup owa Jawa beralih fungsi menjadi kebun pada ketinggian 1.000 sampai 1.800 meter. Kawasan itu juga berbatasan langsung dengan hutan pinus.

"Ciremai sebetulnya itu pernah menjadi salah satu lokasi penelitian untuk jenis primata endemik. Dari mulai owa Jawa, lutung Jawa, surili, kukang, termasuk monyet ekor panjang. Nah, sayangnya dulu ketika diteliti si owa Jawanya sudah hilang," ujar Sigit.

Surili Masih Berkembang Biak, Bayi Terpisah dari Koloni Jadi Sorotan

Dari empat jenis yang tersisa, surili menjadi primata yang perkembangbiakannya tergolong baik di Gunung Ciremai. Kawasan ini bahkan kerap dipakai sebagai lokasi pelepasliaran surili hasil rehabilitasi di pusat konservasi.

"Surili ini perkembangbiakannya cukup baiklah di wilayah tersebut," kata Sigit saat dihubungi, Sabtu (24/10/2026).

Perhatian justru tertuju pada seekor bayi surili yang nyaris terpanggang dalam kebakaran hutan di Gunung Ciremai. Bayi berbulu dominan putih itu diselamatkan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) bernama Dodo di Padabeunghar pada Kamis (22/10) malam.

Kondisinya lemas dan terjebak sendirian di tengah kobaran api. Sigit menilai bayi yang terpisah dari koloninya seharusnya dibawa ke pusat konservasi agar nyawanya tertolong.

"Karena ya selayaknya bayi lah ya, baik itu primata seperti layaknya bayi manusia di mana mereka tentunya belum mandiri dan kalau lihat dari sekilas dari foto kan warna rambutnya masih sangat putih," ungkapnya.

Ia menjelaskan bayi primata masih butuh susu dari induk, kehangatan saat malam, dan tubuh induk untuk tidur. Pakan surili pun berbeda dari monyet ekor panjang karena lebih banyak mengonsumsi pucuk atau daun, bukan buah sembarangan.

Penyebab bayi surili itu ditinggal induknya belum diketahui. Sigit menduga bayi primata seharusnya menempel pada induk hingga fase pradewasa, sambil sesekali bermain dan bersosialisasi dengan kawanan.

Macan Tutul Masih Jadi Predator Utama

Rantai makanan di Gunung Ciremai tetap berjalan dengan macan tutul sebagai predator empat jenis primata tersebut. Populasinya masih banyak ditemukan di wilayah itu.

BBKSDA dan Taman Nasional juga pernah melepasliarkan macan tutul di Bukit 1000 Bintang. Selain individu liar, ada pula macan tutul hasil translokasi yang hidup di kawasan tersebut.

Harapan Setelah Karhutla

Insiden kebakaran hutan di Gunung Ciremai mendorong Sigit meminta perhatian khusus dari pemerintah. Ia juga mengajak masyarakat ikut menjaga kelestarian empat primata yang tersisa.

Bagi traveler yang hendak mendaki atau menjelajah Gunung Ciremai, informasi terkini soal jalur, status kawasan, dan aturan kunjungan dapat dikonfirmasi ke BBKSDA Jawa Barat atau pengelola taman nasional setempat. Perjalanan ke kawasan konservasi sebaiknya dilakukan saat status jalur dinyatakan aman, terutama setelah musim kebakaran.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: travel.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks