Apple TV+ selama beberapa tahun terakhir diam-diam membangun salah satu perpustakaan fiksi ilmiah paling solid di antara layanan streaming. Namun, "For All Mankind" besutan Ronald D. Moore tetap menjadi mahkota permata—perpaduan drama sejarah alternatif, politik Perang Dingin, dan bencana teknik yang membuat ketagihan. Seiring waktu, seri utama itu mulai menjauh dari akar realistisnya dan masuk ke spektakel fiksi ilmiah yang lebih luas.
Di sinilah "Star City" hadir sebagai angin segar. Spinoff ini memundurkan waktu kembali ke akhir 1960-an dan mengajukan pertanyaan: bagaimana jika "For All Mankind" bukan drama inspiratif NASA, melainkan thriller mata-mata Soviet yang penuh kecurigaan? Jawabannya ada di dua episode pertama yang langsung tersedia di platform streaming Apple.
Dari Langit Cerah NASA ke Abu-Abu Moskow
Perubahan tonal paling mencolok langsung terasa sejak menit pertama. Jika seri induknya, terutama di musim awal, memiliki semangat petualangan dan optimisme di balik ketegangan Perang Dingin, "Star City" terasa alergi terhadap harapan. Setnya abu-abu. Pencahayaannya abu-abu. Pakaiannya abu-abu. Sinematografi bergrain dan estetika Soviet yang suram membuat tontonan ini terasa menekan—dan itulah yang memang diinginkan pembuatnya.
Di pusat cerita ada Kepala Desainer misterius yang tidak disebutkan namanya (diperankan Rhys Ifans), arsitek di balik dominasi antariksa Uni Soviet. Sosoknya diperlakukan dengan campuran rasa hormat dan kecurigaan oleh negara. Di sekelilingnya, berputar kumpulan kosmonot, insinyur, agen KGB, dan pasangan yang tidak bahagia—karena represi emosional tampaknya menjadi identitas Soviet.
Mata-Mata di Balik Tirai Besi
Bagian terkuat dari seri ini adalah Irina Morozova (Agnes O’Casey), seorang rekrutan pengawasan KGB yang ditugaskan menguping para kosmonot dan keluarga mereka. Alur ceritanya menjadi inti pertunjukan: dunia yang sesak di mana semua orang memata-matai semua orang, dan kegagalan pribadi kecil sekalipun bisa berubah menjadi bencana tingkat negara.
"Star City" cerdas dengan lebih condong ke wilayah thriller spionase alih-alih sekadar meniru "For All Mankind" beat per beat. Ya, masih ada adegan luar angkasa yang menegangkan dan perbaikan teknik di menit-menit akhir yang akan memicu nostalgia penggemar setia. Namun, fokus di sini jauh lebih internal: rahasia, pengkhianatan, dan dampak psikologis dari kehidupan dalam masyarakat yang terkontrol ketat.
Belum Sepenuhnya Hidup, Tapi Layak Diikuti
Masalah terbesar "Star City", setidaknya berdasarkan dua episode pertama, adalah karakternya belum sepenuhnya hidup. Ada dinamika menarik di seluruh ansambel—terutama yang melibatkan kosmonot Sasha (Solly McLeod), Valya (Adam Nagaitis), dan Anastasia Belikova (Alice Englert). Namun, untuk saat ini, seri ini lebih berinvestasi pada suasana daripada kedalaman emosional.
Di situlah perbandingan dengan "For All Mankind" awal menjadi rumit. Karakterlah yang membuat banyak orang terobsesi dengan seri itu. "Star City" belum sampai ke sana dengan ansambelnya. Meski begitu, akting yang kuat—khususnya O’Casey dan Ifans—dan nuansa thriller spionase yang lebih gelap memberikan perubahan yang disambut baik bagi waralaba ini. Bukan sebagai tontonan yang segar atau menghancurkan secara emosional, melainkan sebagai pendamping yang lebih murung dan penuh paranoia untuk seri aslinya.