Pencarian

Potensi Orong Bukal Sekotong sebagai Destinasi Wisata, Momentum Tinggalkan Tambang Ilegal demi Ekonomi Berkelanjutan

Selasa, 23 Juni 2026 • 10:32:01 WIB
Potensi Orong Bukal Sekotong sebagai Destinasi Wisata, Momentum Tinggalkan Tambang Ilegal demi Ekonomi Berkelanjutan
Orong Bukal di Sekotong mulai dikenal sebagai destinasi wisata alternatif di Lombok Barat.

LOMBOK BARAT — Hamparan laut biru berpadu dengan gugusan perbukitan hijau di Orong Bukal, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, mulai dilirik sebagai simbol transformasi ekonomi masyarakat. Kawasan yang berjarak sekitar satu setengah jam perjalanan dari Kota Mataram ini kerap disebut wisatawan sebagai “Raja Ampat-nya Lombok” karena karakter panorama pesisir dan pulau-pulau kecil yang dimilikinya.

Di balik keindahan itu, muncul dorongan agar masyarakat Sekotong mulai menggeser orientasi ekonomi dari aktivitas pertambangan ilegal menuju sektor pariwisata dan ekonomi hijau. Ketua Forum Wartawan Lingkungan (FWL) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Saudi Al Gibran, menilai masa depan Sekotong tidak seharusnya dipertaruhkan pada eksploitasi sumber daya yang bersifat sesaat dan berisiko menimbulkan kerusakan ekologis.

Modal Alam yang Tak Bisa Diproduksi Ulang

Menurut Saudi, kawasan pesisir dan bentang alam Sekotong merupakan modal ekologis yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih besar apabila dijaga dan dikembangkan melalui sektor pariwisata. Ia menegaskan, ketika lingkungan rusak akibat aktivitas tambang ilegal, yang hilang bukan hanya ekosistem, tetapi juga peluang ekonomi generasi berikutnya.

“Sekotong memiliki modal alam yang tidak dapat diproduksi ulang. Ketika lingkungan rusak akibat aktivitas tambang ilegal, yang hilang bukan hanya ekosistem, tetapi juga peluang ekonomi generasi berikutnya. Sebaliknya, pariwisata berbasis konservasi mampu menciptakan efek berganda yang lebih luas, mulai dari lapangan kerja, tumbuhnya UMKM, jasa transportasi, hingga penguatan identitas kawasan,” ujar Saudi Al Gibran.

Transformasi Butuh Ekosistem Pariwisata yang Nyata

Saudi menekankan, transformasi ekonomi masyarakat tidak cukup hanya dengan imbauan meninggalkan tambang ilegal. Harus diikuti dengan pembangunan ekosistem pariwisata yang nyata, mulai dari peningkatan akses, pelatihan sumber daya manusia, promosi destinasi, penguatan kelembagaan desa wisata, hingga dukungan investasi yang tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.

“Pariwisata sesungguhnya adalah bentuk investasi antar generasi. Alam yang terjaga akan terus menghasilkan manfaat ekonomi tanpa kehilangan fungsi ekologisnya. Karena itu, pelestarian lingkungan harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, bukan dianggap sebagai penghambat pertumbuhan,” katanya.

Dorong Orong Bukal Jadi Kawasan Wisata Nol Sampah

Saudi memberikan penekanan khusus kepada Dinas Pariwisata Provinsi NTB dan Dinas Pariwisata Lombok Barat agar tidak hanya fokus pada promosi destinasi. Ia mendesak agar Orong Bukal sejak sekarang diarahkan menjadi kawasan wisata nol sampah (zero waste tourism) agar pertumbuhan kunjungan wisata tidak berujung pada penurunan kualitas lingkungan.

“Jangan hanya diam melihat potensi besar yang dimiliki Orong Bukal. Dispar NTB dan Dispar Lombok Barat harus mulai mengambil langkah nyata dengan menargetkan Orong Bukal sebagai kawasan nol sampah. Caranya bukan hanya kampanye, tetapi melalui regulasi yang ketat dan konsisten dijalankan,” ujarnya.

Ia mengusulkan agar pemerintah menetapkan aturan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, kewajiban pengelolaan sampah bagi pelaku usaha wisata, penyediaan fasilitas pemilahan sampah, pengawasan rutin, hingga penerapan sanksi terhadap pelanggaran lingkungan. Menurut Saudi, menjaga kebersihan destinasi merupakan bagian dari investasi pariwisata jangka panjang karena wisatawan saat ini tidak hanya mencari pemandangan yang indah, tetapi juga kawasan yang bersih, tertata, dan memiliki komitmen terhadap pelestarian alam.

“Sekotong memiliki kesempatan besar untuk dikenal dunia bukan karena aktivitas tambangnya, tetapi karena keindahan alam dan kemampuannya membangun pariwisata yang berkelanjutan. Ini momentum untuk menentukan arah pembangunan yang lebih cerdas, berkeadilan, dan ramah lingkungan,” tutupnya.

Bagikan
Sumber: tamborapost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks