Pencarian

Ketua KAHMI NTB Minta Presiden Evaluasi Jumlah SPPG MBG, Soroti Dapur Milik Anggota DPR dan Kepala Daerah

Minggu, 09 Agustus 2026 • 23:12:31 WIB
Ketua KAHMI NTB Minta Presiden Evaluasi Jumlah SPPG MBG, Soroti Dapur Milik Anggota DPR dan Kepala Daerah
Ketua KAHMI NTB, Lalu Winengan, menyampaikan rekomendasi evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam konferensi pers di Mataram, Minggu (9/8/2025).

MATARAM — Ketua Majelis Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) NTB, H. Lalu Winengan, mendesak Presiden RI untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah. Sorotan utama dilayangkan pada penataan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai sudah tidak terkendali, terutama di wilayah perkotaan.

Menurut Winengan, pertumbuhan dapur MBG yang melaju pesat justru memicu persaingan tidak sehat di kalangan pengusaha. Dampaknya terlihat dari kualitas menu yang menurun dan banyak makanan yang tidak dikonsumsi oleh siswa.

Menu MBG Banyak Terbuang Hingga Jadi Pakan Ternak

Winengan mengungkapkan fakta memprihatinkan di lapangan. Sejumlah menu MBG ditemukan tidak dimakan oleh siswa di beberapa tempat dan akhirnya berakhir menjadi makanan ternak.

"Ini mubazir, banyak yang tidak dimakan," sesalnya kepada awak media, Minggu (9/8).

Ia menilai program yang digagas Presiden ini sejatinya bagus untuk mencerdaskan anak bangsa. Namun, tanpa pengawasan ketat, tujuan mulia tersebut tidak akan tercapai secara maksimal di lapangan.

Izin Dapur Baru Diminta Dihentikan di Kecamatan Padat SPPG

Menyikapi hal tersebut, Winengan memberikan sejumlah rekomendasi konkret. Pertama, pemerintah pusat diminta untuk tidak menerbitkan izin baru bagi kecamatan yang sudah memiliki dapur SPPG berlebih.

"Dapur MBG yang sedang mengajukan izin tidak perlu dikasih izin. Kemudian, MBG yang kelebihan di masing-masing kecamatan ditutup separuhnya, sehingga terjadi persaingan yang bagus untuk menunya," saran pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) NTB itu.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kualitas menu dan memastikan setiap makanan yang diproduksi benar-benar habis dikonsumsi oleh penerima manfaat.

Konflik Kepentingan: Dapur MBG Milik Bupati dan Anggota DPR

Sorotan tajam juga ditujukan pada kepemilikan SPPG yang disinyalir tidak hanya dimiliki pengusaha swasta. Winengan menduga sejumlah dapur MBG juga dimiliki oleh anggota DPR hingga kepala daerah.

Menurutnya, kepemilikan oleh pejabat publik ini sangat rentan menimbulkan konflik kepentingan dan menyulitkan proses pengawasan. "Misalnya kalau ada bupati yang punya dapur MBG, kalau ada masalah mau lapor ke mana? Sedangkan bupatinya punya (dapur) MBG dan pasti akan subjektif dalam menilainya," ucapnya.

Ia menegaskan SPPG yang dimiliki penyelenggara negara seharusnya ditutup. Hal ini demi menjaga independensi pengawasan dan memastikan program berjalan akuntabel.

MBG Dinilai Lebih Efektif untuk Daerah Terpencil dan Kepulauan

Winengan menilai program MBG akan jauh lebih bermanfaat jika difokuskan pada kawasan daerah terpencil dan terjauh seperti perbukitan atau kepulauan luar. Tren pemborosan makanan justru banyak terjadi di kota-kota besar selama pelaksanaan MBG.

Sebagai alternatif, ia mengusulkan agar setiap siswa diberikan anggaran harian melalui rekening pribadi. Dengan skema tersebut, orang tua yang akan memasak makanan untuk anaknya sendiri sehingga lebih tepat guna dan mengurangi risiko mubazir.

"Sekali lagi, sekiranya Bapak Presiden melalui Kepala BGN yang baru dapat mengevaluasi program ini," pungkasnya.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radarmandalika.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks