Pencarian

BRIDA NTB dan BRIN Siapkan Instalasi Pengolah Air Laut di Sekotong, Target Produksi 120 Meter Kubik per Hari

Selasa, 11 Agustus 2026 • 19:24:31 WIB
BRIDA NTB dan BRIN Siapkan Instalasi Pengolah Air Laut di Sekotong, Target Produksi 120 Meter Kubik per Hari
BRIDA NTB dan BRIN menggelar rapat koordinasi daring untuk menyusun proposal program instalasi pengolah air laut di Sekotong, Lombok Barat.

MATARAM — Rencana pembangunan instalasi pengolah air laut menjadi air minum di Sekotong, Lombok Barat, mulai memasuki babak perencanaan serius. Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) NTB dan BRIN menggelar rapat koordinasi untuk menyusun proposal Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS) secara daring pada Selasa (11/8/2026).

Proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang atas ketergantungan pasokan air bersih yang selama ini dikirim dari daratan utama menuju pulau-pulau kecil di kawasan tersebut. Saat musim kemarau atau puncak kunjungan wisatawan, distribusi air kerap terkendala dan memicu krisis.

Kapasitas 120 Meter Kubik untuk Warga dan Gili

Teknologi SWRO dirancang memproses air laut melalui empat tahapan: pre-treatment untuk menyaring partikel kasar, penyaringan intensif, proses reverse osmosis untuk memisahkan kadar garam, dan post-treatment sebelum air didistribusikan.

Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, menilai teknologi desalinasi ini sangat relevan dengan karakteristik NTB sebagai provinsi kepulauan. Menurutnya, keberhasilan proyek di Sekotong tidak hanya akan membantu masyarakat setempat, tetapi juga memperkuat infrastruktur pendukung pariwisata di gili-gili sekitar.

"Jika teknologi ini berhasil dikembangkan di Sekotong, potensinya tidak hanya untuk masyarakat setempat, tetapi juga dapat memperkuat dukungan infrastruktur bagi pengembangan pariwisata pesisir," ujar Aryadi.

BRIN Ingatkan Risiko Proyek Mangkrak

Meski secara teknis teknologi ini tergolong canggih, BRIN mengingatkan bahwa keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari kemampuan mesin menghasilkan air. Kepala Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Ario Betha Juanssilfero, menekankan bahwa proposal harus layak secara teknologi sekaligus menjawab kebutuhan nyata daerah.

"Proposal ini bukan hanya harus layak secara teknologi, tetapi juga harus benar-benar menjawab kebutuhan daerah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tegas Ario.

Pengalaman penerapan teknologi serupa di daerah lain menunjukkan kendala terbesar justru muncul setelah proyek selesai dibangun. Kurangnya perawatan dan lemahnya tata kelola membuat instalasi akhirnya terbengkalai.

Operator Lokal dan Skema Pembiayaan Jadi Kunci Keberlanjutan

BRIN menyoroti sejumlah aspek krusial yang harus dipenuhi pemerintah daerah, mulai dari kejelasan kelembagaan pengelola, kesiapan operator lokal, hingga skema pembiayaan operasional yang berkelanjutan. Daya beli masyarakat terhadap air hasil olahan juga menjadi pertimbangan agar instalasi tetap berjalan.

Selama masa pelaksanaan, BRIN berkomitmen memfasilitasi transfer teknologi dan pengetahuan kepada sumber daya manusia di daerah. Tujuannya agar instalasi nantinya mampu dioperasikan secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak luar.

Langkah berikutnya, BRIDA NTB dan BRIN akan menyusun Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang mencakup ruang lingkup, durasi pengerjaan, dan penetapan titik lokasi presisi berdasarkan kondisi teknis di lapangan. Kerja sama ini diharapkan menjadi model penyediaan air bersih berbasis teknologi yang mandiri bagi wilayah pesisir NTB.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radarlombok.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks