Pencarian

KKN-PMD Unram di Lombok Utara Sulap Limbah Sarang Madu Jadi Pestisida Nabati, Petani Tak Perlu Beli Pestisida Kimia Mahal

Rabu, 19 Agustus 2026 • 14:29:58 WIB
KKN-PMD Unram di Lombok Utara Sulap Limbah Sarang Madu Jadi Pestisida Nabati, Petani Tak Perlu Beli Pestisida Kimia Mahal
Mahasiswa KKN-PM Unram mendampingi petani Desa Salut, Lombok Utara, mengolah limbah sarang madu menjadi pestisida nabati.

LOMBOK UTARA — Limbah sarang madu yang selama ini dibuang atau dibakar warga Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, kini disulap menjadi pestisida nabati oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram. Program ini sekaligus menjadi solusi bagi petani setempat yang selama ini mengandalkan pestisida kimia untuk melindungi tanamannya.

Desa Salut dikenal sebagai sentra budidaya lebah Trigona. Setiap kali panen, para peternak menghasilkan madu berkualitas tinggi yang dipasarkan hingga ke luar Pulau Lombok dengan merek "Madu Due Bareng". Namun, sarang madu bekas panen kerap dijual murah ke pengepul, dibuang, atau dibakar sehingga memicu polusi udara.

Kandungan Senyawa Aktif dalam Sarang Lebah Trigona

Sarang lebah Trigona ternyata bukan sekadar lapisan lilin. Di dalamnya terkandung senyawa aktif yang mampu mengganggu sistem saraf serangga, menghambat pertumbuhan hama, dan membuat hama kehilangan nafsu makan. Senyawa inilah yang kemudian diekstrak menjadi pestisida alami.

Proses pembuatan pestisida ini melibatkan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Lombok Utara. Sawaludin, S.Sos, Analisa Sarana dan Prasarana Pertanian Ahli Muda, turun langsung memberikan pendampingan teknis kepada petani dan mahasiswa, mulai dari pengenalan bahan baku, proses fermentasi, hingga cara aplikasi di lahan.

Bahan Dapur Sederhana, Hasil 15 Liter Pestisida

Pembuatan pestisida nabati ini terbilang mudah karena hanya memakai bahan-bahan dapur yang mudah didapat. Semua bahan dihaluskan, dicampur dalam wadah tertutup rapat, lalu difermentasi selama tiga hari hingga dua minggu. Selama fermentasi, tutup wadah dibuka sebentar setiap dua hari sekali untuk membuang gas.

Dari satu kali proses produksi, petani bisa mendapatkan 15 liter pestisida. Keberhasilan fermentasi ditandai dengan aroma asam yang khas dan tidak adanya bau busuk. Sebelum digunakan, cairan disaring untuk memisahkan ampas, lalu dicampur sabun colek sebagai perekat agar pestisida tidak mudah hilang saat hujan.

Aturan Pakai: Takaran Berbeda untuk Tanaman Sehat dan Terserang Hama

Penggunaan pestisida nabati ini tidak bisa asal semprot. Takaran berbeda berlaku untuk tanaman sehat dan tanaman yang terserang hama. Penyemprotan dilakukan secukupnya hingga membentuk uap air seperti embun, dan difokuskan pada bagian tanaman yang diserang hama—daun jika hama menyerang daun, batang jika menyerang batang.

Uji coba pada tanaman cabai dan sawi menunjukkan hasil memuaskan. Petani tidak perlu lagi membeli pestisida kimia yang mahal karena bahan bakunya bisa diproduksi sendiri dari limbah yang selama ini diabaikan.

Dampak Ganda: Kurangi Emisi dan Jaga Ekosistem

Inovasi ini sejalan dengan gerakan Proklim yang mendorong adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pengolahan limbah sarang madu mengurangi tumpukan sampah dan praktik pembakaran yang menghasilkan gas rumah kaca—penyebab utama pemanasan global.

Bagi sektor pertanian, pestisida nabati ini menjadi alternatif aman karena tidak meninggalkan residu beracun di tanah dan air. Ekosistem pertanian di Desa Salut pun tetap terjaga, sekaligus menekan biaya produksi petani di tengah mahalnya harga pestisida kimia.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radarmandalika.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks