MATARAM — Enam agama resmi di Indonesia berdiri berdampingan di bawah tiang bendera merah putih di Lapangan Sangkareang, Mataram, Rabu malam. Doa-doa dipanjatkan bergantian dalam bahasa dan ajaran masing-masing, tetapi satu ikhtiar menyatukan mereka: keselamatan dan persatuan bangsa.
Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang kali ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Selain Gus Miftah dan Sari Yuliati, hadir pula Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, Wali Kota Mataram, serta jajaran Forkopimda.
Antusiasme Warga Bukti Toleransi yang Hidup
Kepala Kanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz mengaku bersyukur atas animo masyarakat yang datang dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa. Menurutnya, kehadiran ribuan warga lintas agama di ruang publik terbuka menjadi bukti nyata komitmen daerah dalam merawat kerukunan.
"Semua elemen lintas agama hari ini sangat bersemangat menjaga keutuhan NTB, dan tentu saja menjaga bangsa dan negara kita," ujar Zamroni di sela-sela acara.
Ia menambahkan, apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada para tokoh nasional yang meluangkan waktu untuk hadir dan menguatkan kerukunan di bumi Tambora.
Gus Miftah: Perjumpaan Lintas Agama Perlu Direplikasi
Fenomena ribuan penganut beda keyakinan berkumpul di lapangan terbuka dinilai Gus Miftah sebagai modal besar bagi bangsa. Menurutnya, negara yang kuat selalu dibangun di atas fondasi kerukunan umat beragama yang tulus.
"Di lapangan terbuka ini, para tokoh lintas agama dan jemaahnya berkumpul bersatu. Mereka melafalkan doa dengan bahasa masing-masing di tempat yang sama. Ini membuktikan bahwa tanpa memandang perbedaan agama, kita mampu duduk bersama semata-mata karena kecintaan kita kepada Indonesia," tuturnya.
Gus Miftah menekankan bahwa tradisi doa bersama seperti di Mataram ini layak dicontoh dan direplikasi oleh daerah-daerah lain di Indonesia sebagai cara merawat kebinekaan.
NTB Buktikan Minoritas Hidup Guyub
Sari Yuliati menyoroti kedewasaan beragama masyarakat NTB. Meski sekitar 90 persen penduduk provinsi ini beragama Islam, kehidupan antarumat berjalan harmonis dan saling menghormati.
Politisi dari daerah pemilihan NTB II (Pulau Lombok) itu membagikan pengalamannya saat mengunjungi sebuah sekolah dasar di Cakranegara, Mataram. Di sekolah tersebut, mayoritas siswa beragama Hindu dan sebagian kecil lainnya memeluk agama lain. Para siswa belajar dengan tenang tanpa perundungan maupun diskriminasi.
"Masyarakat minoritas di NTB dapat hidup guyub dan berdampingan dalam semangat kebinekaan. Keberagaman yang terawat dengan baik ini membuktikan bahwa persatuan bisa tumbuh subur dari daerah," kata Sari.
Agenda doa bersama ini ditutup dengan pembacaan deklarasi kerukunan yang diikuti seluruh elemen yang hadir, menegaskan komitmen NTB sebagai salah satu barometer toleransi nasional.