Pencarian

Jalan Panjang Menuju 6G: Spektrum, Investasi, dan Tuntasnya 5G

Rabu, 04 November 2026 • 17:03:31 WIB
Jalan Panjang Menuju 6G: Spektrum, Investasi, dan Tuntasnya 5G
Industri telekomunikasi memperkirakan lebih dari lima miliar koneksi 6G pada 2040 dengan titik persilangan dari 5G sekitar 2035–2037.

NUSA TENGGARA BARAT — Industri telekomunikasi memperkirakan lebih dari lima miliar koneksi 6G pada 2040, dengan titik persilangan dari 5G baru terjadi sekitar 2035–2037. Kesiapan spektrum, standar 3GPP, dan kebijakan investasi nasional menjadi tiga penentu utama agar jaringan generasi keenam itu tidak berjalan lambat. Keputusan yang diambil sekarang akan menentukan kapasitas jaringan dan jumlah orang yang bisa menikmatinya satu dekade mendatang.

Generasi mobile bukan peristiwa tunggal. Setiap lompatan teknologi menuntut perencanaan, investasi, dan koordinasi bertahun-tahun sebelum sampai ke konsumen dan pelaku usaha dalam skala besar. Regulasi, standar, dan spektrum sama-sama butuh waktu panjang untuk matang secara harmonis.

Mengapa Harmonisasi Global Jadi Kunci

Harmonisasi tidak berarti seluruh dunia melakukan hal yang persis sama. Yang dibutuhkan adalah kesepakatan atas sejumlah parameter dasar di ranah spektrum, standar, dan kebijakan. Tanpa itu, ekonomi skala sulit tercapai dan harga perangkat berpotensi membengkak.

Sejumlah parameter dasar itu sudah mulai disusun. Salah satunya akses ke spektrum yang mampu menampung kanal lebar 200–400 MHz pada band relevan. Kanal lebar tidak hanya menyediakan spektrum mentah untuk laju data lebih tinggi, tetapi juga membuka jalan bagi teknologi radio yang lebih efisien, ekonomi jaringan yang lebih baik, dan layanan berbasis AI di masa depan.

Parameter lain adalah finalisasi kerja 3GPP untuk standar yang disepakati global sebagai fondasi teknologi. Kebijakan digital nasional yang berfokus pada investasi jaringan juga masuk daftar, agar infrastruktur benar-benar siap menopang produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Posisi 5G Saat Ini

Saat ini ada sekitar 350 jaringan 5G di seluruh dunia, dan jumlah itu masih punya ruang tumbuh lebar. 5G diluncurkan pada 2018, tetapi periode dominannya baru dimulai sekarang, dengan jumlah koneksi diperkirakan melampaui 4G pada akhir dekade ini.

Janji 5G adalah pengalaman pengguna yang konsisten, dan mewujudkannya butuh waktu serta investasi. Seiring 5G mulai matang, kualitas jaringan meningkat dan trafik ikut naik. Investasi perlu dilanjutkan di banyak pasar pada dua elemen teknologi, yakni 5G standalone dan kemudian 5G-Advanced.

Keduanya bisa mendongkrak produktivitas dan memicu pertumbuhan trafik lebih lanjut, tetapi spektrum tetap syarat utamanya. Jika spektrum tertahan di level sekarang, kota-kota yang menampung lebih dari 50% populasi urban dunia akan mengalami keterbatasan kapasitas pada 2030.

Keberhasilan 5G tidak ditentukan satu aplikasi pembunuh. Yang terjadi justru sebaliknya, dan berlangsung tanpa banyak sorotan: jaringan hari ini dituntut terus mengimbangi permintaan data.

Kebutuhan Spektrum untuk Era 6G

6G juga harus menyediakan kapasitas. Kualitas jaringan dan konsumsi data berkaitan erat. Begitu jaringan makin cepat dan responsif, pengguna mengonsumsi data lebih banyak dan aplikasi baru yang lebih rakus data menjadi layak dijalankan.

Perkembangan AI, sensing, dan lingkungan multiperangkat membuat selisih antara jumlah koneksi dan jumlah orang makin berarti. Kini ada sekitar 8,8 miliar koneksi mobile, tetapi hanya 5,8 miliar pelanggan unik. Ketika manusia, kendaraan, mesin, sensor, dan perangkat lain saling terhubung terus-menerus, koneksi akan tumbuh jauh lebih cepat daripada jumlah penggunanya.

Kebijakan spektrum di era 6G bukan sekadar soal kecepatan maksimum. Fokusnya adalah memastikan kapasitas memadai di titik permintaan tertinggi, umumnya lewat mid-band, sambil menjaga cakupan geografis luas dan kualitas pengalaman yang konsisten. Kesetaraan kualitas antara wilayah urban dan rural menuntut spektrum low-band juga.

Dua Syarat Pelepasan Spektrum 6G

Ada dua elemen yang perlu diperhatikan saat melepas spektrum untuk era 6G pada 2030-an. Pertama, memastikan investasi jaringan 6G didorong lewat kebijakan pemerintah yang berpandangan jauh ke depan. Spektrum harus tersedia tepat waktu, tanpa batasan artifisial dan tanpa harga dasar (reserve price) yang terlampau tinggi.

Sejarah alokasi spektrum mobile memberi pelajaran berulang: nilai spektrum tidak diukur dari harga lisensi, melainkan dari nilai ekonomi dan sosial yang diciptakan jaringan penggunanya. Harga tinggi dari sejumlah lelang 3G memperlihatkan risiko memprioritaskan pendapatan jangka pendek di atas investasi.

4G sempat lebih fokus pada rollout dan ekonomi jaringan, meski ketegangan serupa muncul lagi di sebagian lelang 5G. Lelang 3,5 GHz yang terfragmentasi tanpa peta jalan akses lanjutan membuat operator sulit memperoleh kanal 100 MHz yang bersambung, dan sebagian lelang menghasilkan biaya spektrum tinggi.

Kedua, memahami kebutuhan industri. 6G memerlukan kanal 200–400 MHz per operator disertai kapasitas total yang memadai. Analisis menunjukkan rata-rata sekitar 2–2,5 GHz spektrum mid-band dibutuhkan per pasar pada 2035–2040, naik menjadi sekitar 2,4–3,3 GHz di pasar dengan permintaan tinggi.

Angka itu tidak harus tersedia sekaligus. Peta jalan yang kredibel menuju besaran tersebut memberi operator visibilitas untuk perencanaan jaringan jangka panjang, sementara harmonisasi global menekan biaya perangkat lewat ekonomi skala.

Lingkungan 6G yang berkelanjutan dan setara bisa menjadi platform peluang ekonomi pada 2030-an. Keputusan soal spektrum, standar, infrastruktur, dan investasi tidak hanya menentukan seberapa canggih jaringan 6G nanti, tetapi juga seberapa luas manfaatnya bisa dirasakan.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techradar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks