Pencarian

Tumbuh Kembang Anak di Era AI: Panduan Orang Tua Zaman Now

Minggu, 08 November 2026 • 09:33:31 WIB
Tumbuh Kembang Anak di Era AI: Panduan Orang Tua Zaman Now
Dokter spesialis anak menekankan pentingnya pemenuhan asah, asih, dan asuh dalam mendampingi tumbuh kembang anak di era AI.

NUSA TENGGARA BARAT — Kehadiran AI memang mengubah banyak hal, termasuk cara anak belajar dan bermimpi. Tapi kebutuhan dasar mereka tetap sama: asah, asih, dan asuh yang optimal. Simak panduan praktis dari dokter anak untuk mendampingi si kecil tumbuh di era teknologi ini.

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kini makin masif dan mulai menyentuh berbagai sisi kehidupan keluarga. Banyak orang tua pun bertanya-tanya, kemampuan apa yang sebenarnya paling dibutuhkan anak agar siap menghadapi masa depan.

Jawabannya bukan sekadar pintar menggunakan gadget. Dokter Spesialis Anak dari RS Siloam Makassar, dr Merlyn Meta Astari, menekankan bahwa fondasi tumbuh kembang anak justru tetap berakar pada tiga hal klasik: asah, asih, dan asuh.

AI Mengubah Profesi, Bukan Kebutuhan Dasar Anak

Dalam talkshow bertema "AI Makin Pintar, Anak Kita Perlu Pintar Apa: Preparing Today For Tomorrow's Future Leaders" di Trans Studio Mall Makassar, Merlyn menyoroti pergeseran cita-cita anak. Dulu anak bercita-cita jadi dokter, kini banyak yang ingin menjadi YouTuber.

Meski pilihan profesi berubah, kebutuhan tumbuh kembangnya tidak ikut berubah. "AI itu hanya mengubah pekerjaan saja. Kalau ditanya anak mau jadi apa, dahulu ketika ditanya ingin menjadi apa, jawabannya biasanya dokter. Sekarang, anak-anak mungkin ingin menjadi YouTuber, namun kebutuhan anak tetap sama," jelas Merlyn.

Menurutnya, era AI justru menuntut kemampuan yang lebih manusiawi. Kreativitas, empati, dan kemampuan mengelola emosi menjadi bekal yang semakin dibutuhkan anak.

Jangan Abaikan Nutrisi dan Stimulasi di Dua Tahun Pertama

Merlyn mengingatkan bahwa kebutuhan fisik, emosional, dan stimulasi adalah fondasi yang tidak boleh diabaikan. Jika salah satu unsur tidak terpenuhi, perkembangan anak bisa kurang optimal.

Dua tahun pertama kehidupan menjadi periode krusial. "Jika kebutuhan tersebut diabaikan pada dua tahun pertama kehidupan, kita juga mengabaikan perkembangan otak anak misalnya, melalui susu dan suplemen," terangnya.

Setelah fondasi otak terbentuk, stimulasi tetap harus berjalan. "Jika fondasi otak sudah kokoh dan terbentuk, kita lanjutkan dengan stimulasi. Jadi, otak harus tetap dilatih melalui stimulasi, tidak hanya dengan nutrisi," tambah Merlyn.

Beri Ruang Anak untuk Gagal dan Memilih

Teknologi yang serba instan disebut Merlyn cenderung membuat anak malas bergerak. Situasi ini justru perlu diimbangi dengan memberi anak ruang mencoba berbagai pengalaman baru.

Orang tua tidak disarankan mengatur setiap langkah anak. "Kalau orang tua tidak pernah memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih, justru hal tersebut dapat memengaruhi perkembangannya. Anak harus mengetahui bahwa gagal itu bukan sesuatu yang buruk," jelasnya.

Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Anak yang terbiasa dengan aktivitas monoton pun bisa tantrum saat menghadapi perubahan, padahal aktivitas baru itulah yang mereka butuhkan.

Koding sebagai Sarana Melatih Cara Berpikir

Perwakilan Koding Next Makassar, Yovita Rosalia, menambahkan bahwa pembelajaran koding dapat melatih kemampuan berpikir anak sejak dini. Materinya disesuaikan dengan usia anak.

Anak usia empat tahun bisa dikenalkan pada simbol, permainan, dan pola. Sementara anak usia tujuh tahun ke atas mulai belajar melalui aktivitas mengetik.

"Jika anak melakukan kesalahan, tidak masalah. Nantinya, kami akan melatih mereka untuk memahami bagian yang salah. Koding ini berkaitan erat dengan matematika sehingga anak juga bisa sekaligus belajar matematika," papar Yovita.

Kapan Orang Tua Perlu Lebih Waspada

Perhatikan jika anak menunjukkan hambatan perkembangan, sulit mengelola emosi, atau tantrum berlebihan saat menghadapi aktivitas baru. Merlyn menegaskan, emosi anak tidak boleh diabaikan karena menjadi fase penting dalam memahami keadaan sekitar.

Jika kekhawatiran muncul, konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan penilaian yang tepat. Pemantauan tumbuh kembang sejak dini membantu orang tua mengambil langkah yang sesuai kebutuhan si kecil.

Jadi Fasilitator, Bukan Pengatur

Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran orang tua. "Teknologi yang baik seharusnya dapat membantu kita. Karena sekarang AI berkembang, justru banyak fasilitas yang bisa digunakan. Kita seharusnya menjadi fasilitator bagi anak agar dapat berkembang," imbuh Merlyn.

Pada akhirnya, AI boleh semakin pintar, tapi kebutuhan anak akan kasih sayang, nutrisi, dan stimulasi tetap sama. Tugas orang tua adalah memastikan fondasi itu kokoh, sambil membiarkan anak bereksplorasi dan belajar dari kesalahannya sendiri.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks