NUSA TENGGARA BARAT — Saham Nissan Motor sempat menyentuh ¥259 per lembar pada 4 November 2026—titik terendah sejak November 1975—sebelum melonjak 10,5 persen dan ditutup di ¥293 sehari kemudian. Pergerakan ekstrem ini terjadi saat investor menimbang apakah rencana pemulihan di bawah CEO Ivan Espinosa mampu membalikkan lemahnya penjualan global dan tekanan profitabilitas yang membelit produsen asal Jepang tersebut.
Sepanjang 2026, harga saham Nissan sudah terkoreksi sekitar 25 persen. Sejak Ivan Espinosa menempati kursi Presiden sekaligus CEO pada April 2025, nilainya menyusut sekitar 17 persen—angka yang dikutip Automotive News Europe dalam laporan berjudul "Saham Nissan bangkit setelah merosot ke level terendah sejak 1975".
Lonjakan 10,5 persen pada 5 November tidak serta-merta menghapus kerugian tahunan. Pasar hanya memberi ruang napas singkat, bukan restu penuh atas strategi pemulihan perusahaan.
Penjualan Global Turun 4,7 Persen di Semester Pertama
Untuk periode April hingga September 2026, penjualan global Nissan mencapai 1,41 juta unit atau turun 4,7 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Dua pasar utamanya bergerak berlawanan arah.
- Tiongkok: 237.458 unit, turun 15 persen
- Amerika Serikat: 469.215 unit, naik 5,5 persen
Angka Tiongkok menjadi sorotan karena persaingan di sana kian ketat, terutama dari merek lokal yang agresif di segmen kendaraan listrik. Sementara di Amerika Utara, meski volume penjualan naik, biaya insentif penjualan menekan margin profitabilitas.